LRT Shah Alam Line Resmi Beroperasi: Tiket Belum Terintegrasi, Pengguna Tunai Terhambat
Baca dalam 60 detik
- LRT Shah Alam Line mulai beroperasi dengan sistem tiket mandiri yang belum terhubung dengan jaringan Rapid Rail lain, mempersulit pengguna tunai saat transit.
- Pengguna kursi roda dan lansia menghadapi tantangan tambahan di stasiun transfer Glenmarie 2 karena harus menggunakan bel video untuk mengakses lift.
- Stasiun tanpa pendingin udara dan interval kereta hingga 14 menit berpotensi membuat penumpang gerah, meski tidak adanya pintu peron membantu sirkulasi udara.

LRT Shah Alam Line, jalur kereta ringan terbaru di Lembah Klang, resmi membuka layanan perdana dengan menyisakan sejumlah catatan kritis, terutama bagi pengguna yang masih mengandalkan pembayaran tunai. Dalam uji coba eksklusif yang diikuti awak media, perjalanan dari Stasiun Stadium Shah Alam hingga Johan Setia di Klang berlangsung mulus secara umum, namun sejumlah kekurangan infrastruktur dan sistem tiket langsung terasa.
Masalah paling mencolok adalah tidak adanya integrasi tiket antara Shah Alam Line dengan jalur Kelana Jaya dan MRT Kajang. Penumpang yang membayar tunai harus membeli tiket terpisah saat berganti jalur di stasiun Glenmarie 2 atau Bandar Utama. Kondisi ini berpotensi menimbulkan antrean panjang, terutama pada jam sibuk atau bagi mereka yang mengejar kereta terakhir. Prasarana Malaysia Berhad, operator jaringan, mengakui belum ada solusi sederhana untuk persimpangan ini dan berjanji menempatkan cukup staf untuk membantu penumpang hingga sistem tiket terpadu beroperasi.
Pengguna kartu prabayar seperti My50 juga tidak luput dari kerepotan. Mereka harus tap in dan tap out berulang kali setiap berganti jalur karena sistem back-end belum terintegrasi penuh. Sementara itu, karcis kertas cetak dengan kode QR kembali digunakan untuk pembayaran tunai, menggantikan token plastik bundar yang lazim di jalur lain. Menurut Prasarana, ini adalah langkah sementara menuju sistem pembayaran terbuka. Dalam uji coba, kode QR pada karcis kertas tetap berfungsi meski sedikit lembap atau kusut, namun daya tahan jangka panjang masih dipertanyakan.
Bagi pengguna kursi roda, tantangan semakin berat di stasiun transfer Glenmarie 2. Mereka harus menekan bel video untuk memanggil petugas guna mengakses lift. Langkah ini sengaja diterapkan untuk mencegah penyalahgunaan lift oleh penumpang yang tidak membutuhkan, namun dianggap merepotkan dan mengurangi kemandirian. Prasarana menyatakan akan menambah staf di stasiun untuk membantu penyandang disabilitas, lansia, dan penumpang dengan kereta bayi hingga sistem tiket terintegrasi beroperasi.
Dari segi kenyamanan, stasiun-stasiun Shah Alam Line tidak dilengkapi pendingin udara. Satu-satunya sumber pendingin adalah kipas angin dinding berukuran kecil, bukan kipas raksasa yang lazim digantung di langit-langit. Dengan interval kereta yang bisa mencapai 14 menit, penumpang berpotensi berkeringat saat menunggu di peron. Namun, ketiadaan pintu peron justru membantu sirkulasi udara, meski bagi pejalan kaki atau pesepeda yang menuju stasiun, udara lembap tetap terasa menyengat.
Ke depannya, keberhasilan LRT Shah Alam Line sangat bergantung pada seberapa cepat Prasarana merealisasikan sistem tiket terpadu dan peningkatan kenyamanan stasiun. Tanpa integrasi yang mulus, jalur baru ini berisiko menjadi pilihan kedua bagi komuter yang terbiasa dengan kemudahan jaringan Rapid Rail yang sudah mapan. Akankah Prasarana mampu mengejar ketertinggalan sebelum keluhan pengguna membesar?



