Ledakan Tuas Tewaskan 3 Pekerja: Direktur Perusahaan Divonis 18 Bulan Penjara
Baca dalam 60 detik
- Direktur Stars Engrg, Chua Xing Da, dijatuhi hukuman 18 bulan penjara karena kelalaian keselamatan kerja yang menyebabkan ledakan di Tuas pada 2021.
- Ledakan terjadi akibat pengoperasian mesin pencampur pemanas tanpa mengikuti panduan pabrikan, menyebabkan tiga pekerja tewas dan tujuh luka-luka.
- Perusahaan didenda S$500.000, sementara manajer produksi dihukum enam minggu penjara karena menghalangi penyelidikan.

Lima tahun setelah ledakan mematikan di kawasan industri Tuas, Singapura, seorang direktur perusahaan akhirnya harus mempertanggungjawabkan kelalaiannya di pengadilan. Chua Xing Da (42), warga negara Singapura, divonis 18 bulan dan satu pekan penjara pada Kamis (25/6) atas dua dakwaan pelanggaran keselamatan kerja dan satu dakwaan menghalangi penyidikan. Perusahaannya, Stars Engrg, yang bergerak di bidang instalasi sistem proteksi kebakaran, juga dijatuhi denda setengah juta dolar Singapura.
Ledakan yang terjadi pada 24 Februari 2021 di 32E Tuas Avenue 11 itu merenggut nyawa tiga pekerja—Subbaiyan Marimuthu (38) asal India, serta Anisuzzaman Md (29) dan Shohel Md (23) asal Bangladesh—yang menderita luka bakar hingga 90 persen. Tujuh orang lainnya, termasuk lima pekerja Stars Engrg dan dua dari unit tetangga, mengalami luka bakar serius. Peristiwa ini menjadi salah satu kecelakaan kerja paling tragis di Singapura dalam beberapa tahun terakhir.
Investigasi Kementerian Tenaga Kerja (MOM) mengungkapkan bahwa mesin pencampur pemanas buatan China, yang dibeli seharga US$11.700 pada Agustus 2019, dioperasikan secara tidak aman dalam waktu lama. Chua, yang secara pribadi mengatur penggunaan mesin tersebut, mengambil keputusan berdasarkan asumsi keliru tanpa berkonsultasi dengan pabrikan. Ia mengoperasikan mesin sebagai sistem tertutup, bukan terbuka, dan menggunakan minyak pemanas yang tidak mencukupi. Akibatnya, tekanan dan panas berlebih memicu ledakan dahsyat.
Hakim Distrik Tan Jen Tse menilai bahwa meskipun Stars Engrg telah mengambil langkah-langkah keselamatan umum seperti pelatihan pekerja dan penyediaan alat pelindung diri, Chua gagal memastikan mesin dioperasikan dengan benar. “Pabrikan sangat bersedia memberikan bantuan,” ujar hakim, merujuk pada percakapan WhatsApp antara Chua dan perwakilan pabrikan yang dinilai kooperatif. Namun, Chua tidak pernah menghubungi pabrikan saat masalah muncul, bahkan saat mesin masih dalam masa garansi. Ia justru melakukan perbaikan sendiri, termasuk pengelasan dan pemasangan isolasi panas, tanpa panduan teknis.
Jaksa Penuntut Timotheus Koh menekankan bahwa Chua membuat semua keputusan kritis yang menyebabkan kegagalan perusahaan. “Ia memutuskan jumlah minyak, mengoperasikan mesin sebagai sistem tertutup, dan melakukan modifikasi yang tidak tepat,” kata Koh. Ia juga menuding Chua mengabaikan beberapa tanda bahaya sebelum ledakan. Sementara itu, manajer produksi Lwin Moe Tun (36), warga Myanmar, dihukum enam pekan penjara karena menghapus pesan dan foto yang relevan dengan penyidikan setelah ledakan.
Kuasa hukum Chua, Chia Boon Teck, menyatakan bahwa kliennya ingin “hari di pengadilan” untuk menjelaskan apa yang ia lakukan dan tidak lakukan. Ia mengakui bahwa kesalahan Chua berakar dari asumsi keliru dan pengetahuan yang tidak lengkap, yang menunjukkan kelalaian, bukan kesengajaan. “Tidak ada bukti bahwa mereka mengambil risiko untuk menghemat biaya,” ujar Chia. Setelah ledakan, Chua bekerja sama dengan MOM untuk menyusun laporan setebal 400 halaman dan membantu penerbitan aturan baru tentang perlindungan pekerja dari debu mudah terbakar dan mesin berisiko tinggi.
Pengadilan mengizinkan Chua dan Lwin Moe Tun menunda hukuman penjara hingga Juli, serta mengizinkan Stars Engrg membayar denda secara mencicil hingga Juli 2027. Dalam pernyataan setelah vonis, MOM menyatakan bahwa ledakan tersebut sebenarnya dapat dicegah. Sebuah komite penyelidikan menemukan kegagalan serius dalam pengoperasian dan perawatan mesin, serta kontrol yang tidak memadai terhadap bubuk mudah terbakar di lokasi kerja yang menyebabkan kebakaran kilat sekunder.
Komisaris Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Silas Sng, menegaskan bahwa perusahaan dan pejabatnya harus menanggapi keselamatan kerja dengan serius dan bertindak tegas pada tanda pertama risiko. “Keselamatan kerja adalah tanggung jawab yang tidak hanya berada di pundak pekerja lapangan, tetapi juga mereka yang mengawasi operasi dan membuat keputusan yang memengaruhi keselamatan pekerja,” ujarnya. Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa kelalaian dalam prosedur keselamatan dapat berakibat fatal, dan hukum harus ditegakkan untuk mencegah tragedi serupa terulang.
Ke depan, penerapan langkah-langkah keselamatan yang lebih ketat untuk mesin berisiko tinggi dan debu mudah terbakar, yang mulai berlaku Januari 2025, diharapkan dapat mengurangi risiko kecelakaan kerja. Namun, pertanyaan mendasar tetap ada: apakah regulasi yang lebih ketat saja cukup tanpa perubahan budaya keselamatan di tingkat manajemen?



