IHSG Bangkit 1,96% ke 5.999, Meredakan Kekhawatiran Setelah Anjlokan Kemarin
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan berhasil memulihkan sebagian kerugian sehari sebelumnya, ditutup di 5.999,04 dengan seluruh sektor hijau.
- Keputusan MSCI mempertahankan status emerging market Indonesia menjadi katalis utama, meski ada catatan reformasi yang akan dievaluasi November 2026.
- Tekanan eksternal dari data inflasi AS dan penguatan dolar masih membayangi, dengan rupiah melemah empat hari beruntun ke Rp17.925.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil membalikkan tekanan dengan menguat 1,96% ke posisi 5.999,04 pada penutupan sesi kedua, Kamis (25/6/2026), setelah sehari sebelumnya ambles 3,56%. Seluruh sektor saham tercatat menghijau, memberikan napas lega bagi investor yang sempat cemas akan kelanjutan pelemahan.
Data perdagangan menunjukkan 537 saham menguat, 135 melemah, dan 141 stagnan. Meski indeks naik signifikan, nilai transaksi hanya mencapai Rp13,65 triliun dengan volume 22,58 miliar saham dalam 1,70 juta transaksi. Kapitalisasi pasar masih bertahan di bawah Rp11.000 triliun, tepatnya Rp10.542 triliun, mengindikasikan optimisme yang belum sepenuhnya diikuti oleh likuiditas besar.
Penguatan dipimpin oleh saham-saham berkapitalisasi besar. PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) menjadi kontributor terbesar dengan 19,73 poin, disusul PT Astra International Tbk (ASII) 11,17 poin, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 9,37 poin, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 6,27 poin, dan PT Merdeka Copper and Gold Tbk (MDKA) 4,72 poin. Saham lain seperti DSSA, BRPT, AMRT, BMRI, dan EMAS juga ikut mendorong indeks.
Sentimen utama penguatan berasal dari keputusan MSCI yang tetap mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Emerging Market. Keputusan ini meredam kekhawatiran akan potensi keluarnya dana asing besar-besaran jika status Indonesia diturunkan menjadi Frontier Market. Namun, MSCI memberikan catatan terkait transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan efektivitas reformasi pasar modal yang akan dievaluasi kembali pada November 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah menilai keputusan ini sebagai sinyal kepercayaan investor global, seraya berkomitmen melanjutkan reformasi untuk memperkuat integritas pasar.
Di sisi eksternal, perhatian investor tertuju pada rilis inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang menjadi acuan suku bunga The Fed. Jika inflasi PCE kembali naik, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) akan menguat, mendorong dolar AS dan imbal hasil Treasury, yang berpotensi menekan aset berisiko seperti IHSG dan rupiah. Data klaim pengangguran mingguan AS juga dinanti untuk mengukur kondisi pasar tenaga kerja. Indeks dolar AS yang telah menembus 101,609 menjadi faktor pembatas penguatan rupiah dan saham domestik.
Rupiah sendiri masih tertekan, ditutup melemah 0,50% ke Rp17.925 per dolar AS pada perdagangan Rabu (24/6/2026), memperpanjang pelemahan empat hari beruntun. Kombinasi tekanan eksternal dan evaluasi MSCI ke depan membuat pasar masih waspada. Pertanyaan kuncinya: akankah IHSG mampu bertahan di atas 6.000 jika data inflasi AS ternyata lebih tinggi dari perkiraan, atau justru kembali terpuruk?



