Joe Manganiello Buka Suara: Bertahun-tahun Menderita Penyakit Misterius Hingga Harus Diamputasi
Baca dalam 60 detik
- Aktor Joe Manganiello mengaku menjalani pengobatan berat dan operasi mutilasi selama bertahun-tahun akibat penyakit autoimun yang tak terdiagnosis.
- Dalam memoar 'Bloodlines', ia menceritakan perjalanan dari pengobatan konvensional yang gagal hingga terapi alternatif seperti dukun dan ritual pagan.
- Kisahnya menyoroti keterbatasan pengobatan Barat dan pentingnya pendekatan holistik, relevan bagi pasien penyakit kronis di Indonesia.

Aktor Hollywood Joe Manganiello, yang dikenal lewat film Magic Mike dan serial True Blood, mengungkapkan bahwa ia menghabiskan "berbulan-bulan dalam kondisi terobati secara berat" saat berjuang melawan penyakit misterius yang nyaris merenggut nyawanya. Dalam sebuah unggahan Instagram, pria berusia 49 tahun itu menceritakan pengalaman pahit yang selama hampir satu dekade ia sembunyikan dari publik.
Manganiello menulis memoar berjudul Bloodlines yang akan terbit Oktober mendatang. Buku itu mendokumentasikan "serangkaian penyakit autoimun" yang menyerang kulit, tiroid, mata, paru-paru, dan sistem pencernaannya. Ia mengaku telah berkonsultasi dengan dokter-dokter terbaik dunia, namun pengobatan yang diberikan justru memperburuk kondisinya. "Semua upaya mereka mengobati dengan obat biologis berkekuatan tinggi hanya memperparah gejala dan memicu efek samping brutal yang menghantui saya bertahun-tahun," ujarnya.
Dalam upaya menyelamatkan diri, Manganiello menjalani operasi serius yang "mutilasi bagian tubuh" dan membuatnya sering tak bisa berdiri atau berjalan. Ia bahkan harus menjalani amputasi organ demi bertahan hidup. "Saya menjalani operasi dan prosedur yang sangat serius yang memutilasi bagian tubuh saya dan membuat saya sangat lemah hingga kadang tidak bisa berdiri atau berjalan," katanya kepada People magazine. Ia menyebut periode itu sebagai "waktu paling brutal dalam hidup saya, yang tidak akan saya doakan pada musuh terburuk sekalipun".
Ketika pengobatan medis modern tak membuahkan hasil, Manganiello beralih ke pendekatan alternatif. Menurut sinopsis bukunya, ia mendatangi dukun, mengikuti ritual pagan, menelusuri catatan keluarga yang hilang, dan membangkitkan spiritualitasnya. "Mungkin apa yang terjadi pada saya tidaklah acak. Untuk sembuh, pikiran, tubuh, dan jiwa saya harus selaras, dan saya perlu terbuka pada teknik serta ide radikal dan tidak lazim di luar batas pengobatan Barat," jelasnya.
Kisah Manganiello menyoroti keterbatasan pengobatan konvensional dalam menangani penyakit autoimun yang kompleks. Di Indonesia, kasus serupa kerap terjadi: pasien dengan gejala autoimun sering kali salah diagnosis atau menjalani pengobatan yang tidak tepat sasaran. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa penyakit autoimun seperti lupus dan rheumatoid arthritis masih menjadi tantangan diagnostik karena gejalanya yang mirip dengan penyakit lain. Banyak pasien akhirnya mencari terapi alternatif, mulai dari jamu hingga pengobatan tradisional, karena merasa tidak mendapat solusi dari layanan kesehatan formal.
Manganiello berharap pengalamannya bisa memberi harapan bagi penderita lain. "Jika Anda di luar sana dan menderita, ada harapan," katanya. Ia menambahkan bahwa proses menulis buku memberinya perspektif bahwa penderitaannya adalah "kepompong" yang membuatnya berubah selamanya. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah kisahnya mendorong lebih banyak riset tentang penyakit autoimun dan integrasi pengobatan alternatif ke dalam sistem kesehatan modern?



