Harga Minyak Mendekati Level Pra-Konflik, Isyarat Diplomasi AS-Rusia Redakan Kekhawatiran Pasokan
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI turun lebih dari 1% setelah AS memastikan lalu lintas tanker di Selat Hormuz kembali normal dan mengisyaratkan perundingan dengan Iran dan Rusia.
- Meredanya ketegangan geopolitik dan ekspektasi suku bunga AS yang lebih rendah menekan harga minyak ke kisaran terendah sejak sebelum konflik Timur Tengah.
- Indonesia, sebagai importir minyak, berpotensi menikmati penurunan beban subsidi energi jika tren penurunan harga berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.

Harga minyak mentah dunia terus merosot mendekati level sebelum konflik Timur Tengah memanas, setelah Amerika Serikat mengonfirmasi kembalinya lalu lintas tanker di Selat Hormuz ke kondisi normal dan mengisyaratkan putaran baru perundingan dengan Iran serta Rusia. Brent tercatat di bawah 74 dolar AS per barel pada perdagangan Kamis, menandai pelemahan tercepat dalam beberapa pekan terakhir.
Brent ditutup di 73,07 dolar AS per barel, turun 1,08 persen dari posisi sebelumnya, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,89 persen ke 69,71 dolar AS. Penurunan ini didorong oleh dua faktor utama: kepastian bahwa jalur energi paling kritis dunia tidak terganggu, serta sinyal bahwa Washington dan Teheran akan kembali bertemu di Swiss pada 30 Juni mendatang.
Menteri Energi AS, Chris Wright, dalam forum energi global Reuters di New York, Rabu, menegaskan bahwa aliran minyak melalui Selat Hormuz telah pulih sepenuhnya. โKami memiliki aliran normal hari ini,โ ujarnya, seraya menyebut volume yang melintas setara dengan level sebelum ketegangan. Wright juga menambahkan bahwa Washington akan tetap menjamin kelancaran jalur tersebut meski tanpa kesepakatan formal dengan Iran.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang tengah melakukan tur ke Teluk, mengonfirmasi bahwa kelompok teknis urusan Iran akan kembali bersidang di Swiss pada 30 Juni. Rubio, yang mengunjungi Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain sejak 23 Juni, juga dijadwalkan bertemu Dewan Kerja Sama Teluk untuk membahas prioritas kawasan. Langkah ini dipandang sebagai upaya Washington meredakan ketegangan yang sempat memicu lonjakan harga minyak awal tahun ini.
Dari Moskow, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Ryabkov, mengungkapkan bahwa Rusia dan AS berencana menggelar konsultasi baru untuk menyelesaikan perselisihan bilateral. โRencana itu ada. Belum ada tenggat pasti, tetapi dipahami akan berlanjut,โ kata Ryabkov kepada surat kabar Izvestia. Ia memperkirakan pembicaraan akan berlangsung sebelum akhir musim panas, meski mengakui adanya hambatan dalam menghilangkan โpengganggu timbal balikโ dalam hubungan kedua negara.
Faktor lain yang menekan harga adalah perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS. Para pelaku pasar kini hanya memperkirakan satu kenaikan suku bunga Federal Reserve hingga akhir tahun, turun dari proyeksi sebelumnya yang mencapai dua kali. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menekan permintaan bahan bakar, sehingga menjadi sentimen negatif bagi minyak.
Implikasi bagi Indonesia
Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia berpotensi merasakan dampak positif dari tren penurunan ini. Harga minyak yang lebih rendah dapat mengurangi beban subsidi energi dalam APBN, terutama jika tren berlanjut hingga kuartal ketiga. Namun, risiko tetap ada jika ketegangan geopolitik kembali memanas atau jika OPEC+ mengambil langkah pemangkasan produksi secara mendadak. Pemerintah perlu mencermati dinamika perundingan AS-Iran dan AS-Rusia dalam beberapa pekan ke depan, karena hasilnya akan menentukan arah harga energi global.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah penurunan ini bersifat sementara atau awal dari tren bearish jangka panjang. Jika diplomasi berhasil meredakan konflik dan pasokan tetap lancar, bukan tidak mungkin harga minyak kembali ke kisaran 60-65 dolar AS per barel seperti sebelum perang di Timur Tengah. Namun, jika negosiasi gagal, reli harga bisa terjadi kembali kapan saja.



