Cahya Supriadi: Dari Modal Rp200 Ribu ke Seleksi Persija Hingga Jadi Andalan Timnas
Baca dalam 60 detik
- Kiper berusia 23 tahun asal Karawang ini menembus Timnas Indonesia senior setelah melalui perjalanan panjang dari seleksi Akademi Persija dengan bekal Rp200 ribu.
- Kegagalan bermain di turnamen RT menjadi titik balik yang mendorongnya masuk sekolah sepak bola, lalu merantau ke Jakarta pada usia 12 tahun.
- Karier Cahya terus menanjak setelah lolos seleksi Persija pada 2018, membawanya ke timnas U-20, U-23, dan akhirnya debut senior di Turnamen Maurice Revello 2022.

Kiper muda Cahya Supriadi, yang kini menjadi salah satu penjaga gawang paling menjanjikan di Indonesia, memulai perjalanan kariernya dengan modal nekat dan uang saku Rp200 ribu untuk mengikuti seleksi Akademi Persija pada 2018. Kini, di usianya yang baru 23 tahun, ia tidak hanya menjadi pilar di klubnya tetapi juga mencuri perhatian di Timnas Indonesia senior.
Lahir di Karawang pada 11 Februari 2003, Cahya memiliki postur atletis 180 cm yang membuatnya lincah di bawah mistar. Jebolan Akademi Persija ini pernah memperkuat Bekasi City dan PSIM Yogyakarta sebelum akhirnya menembus timnas U-20, U-23, hingga timnas senior. Debut internasionalnya terjadi saat membela Timnas U-20 melawan Venezuela di Turnamen Maurice Revello 2022 di Prancis.
Perjalanan Cahya tidaklah mulus. Dalam wawancara dengan kanal YouTube Sepik Bola, ia mengaku mengenal sepak bola dari sang kakak. Namun, awal mula ketertarikannya justru berawal dari kekecewaan. "Saya pernah nangis karena tidak dimainkan oleh Pak RT di turnamen antar-RT. Saya daftar tapi tidak dimainkan sama sekali," kenangnya sambil tertawa. Kejadian itu mendorong kakaknya untuk mendaftarkannya ke Sekolah Sepak Bola (SSB) Tunas Pupuk Kujang di Cikampek.
Di SSB, Cahya mulai jatuh cinta pada sepak bola. "Makin ketagihan, makin nyaman. Tidak lama kemudian saya mendapat tawaran ke Jakarta. Umur 12 tahun saya sudah merantau," ujarnya. Di ibu kota, ia bergabung dengan SSB Ragunan Soccer School dan mengikuti kompetisi seperti Liga Topskor dan Liga Kompasu. Seorang pelatih bernama Om Jos kemudian menawarkannya seleksi Akademi Persija di Sunter, Jakarta Utara.
Tahun 2018, dengan modal nekat dan hanya Rp200 ribu, Cahya berangkat ke Jakarta saat bulan puasa. "Enggak mikir, teknologi sudah lumayan canggih. Saya modal betul cuman Rp200 ribu," katanya. Ia lolos seleksi meski harus menumpang di kos temannya, Fajar. Dari sana, kariernya terus menanjak hingga menjadi kiper yang diperhitungkan di level nasional.
Kisah Cahya menjadi cermin perjuangan pemain muda Indonesia yang harus melewati lika-liku administrasi dan finansial. Keberhasilannya membuktikan bahwa bakat dan kerja keras bisa mengalahkan keterbatasan modal. Dengan usia yang masih muda, Cahya diproyeksikan menjadi andalan jangka panjang di bawah mistar gawang Timnas Indonesia.
Ke depan, tantangan terbesar Cahya adalah mempertahankan konsistensi di tengah persaingan ketat dengan kiper lain seperti Ernando Ari dan Nadeo Argawinata. Mampukah ia mengamankan posisi utama di timnas senior untuk ajang-ajang besar mendatang?



