Topan Mekkhala Hantam Taiwan: 200 Warga Dievakuasi, Banjir Landa Taipei
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras dari Topan Mekkhala menyebabkan banjir di Taipei dan selatan Taiwan, meski topan tidak mendarat langsung.
- Lebih dari 200 orang di Hualien dievakuasi karena ancaman jebolnya danau bendungan alami di pegunungan.
- Taiwan bergantung pada musim topan untuk mengisi waduk, namun risiko bencana seperti longsor dan banjir bandang tetap mengintai.

Hujan deras yang dipicu oleh Topan Mekkhala, yang bergerak menuju Jepang, telah menyebabkan banjir lokal di Taipei dan sejumlah wilayah di selatan Taiwan pada Kamis (25/6). Meski topan tidak mendarat langsung di Taiwan, sabuk luarnya membawa curah hujan ekstrem, terutama di Kaohsiung dan Pingtung. Pemerintah setempat terpaksa mengevakuasi lebih dari 200 warga di pesisir timur menyusul kekhawatiran jebolnya danau bendungan alami di pegunungan Hualien.
Di Pingtung, seluruh perkantoran dan sekolah diliburkan pada Kamis sore, sementara Kaohsiung mengambil langkah serupa untuk dua kawasan pegunungan. Di kawasan Neihu, pinggiran Taipei, genangan air hampir menenggelamkan sejumlah mobil. Belum ada korban jiwa dilaporkan, tetapi pemerintah Hualien memindahkan warga dari dua kecamatan yang berada di hilir danau bendungan yang volumenya meningkat cepat.
Danau bendungan alami terbentuk ketika bebatuan, longsor, atau hambatan alam lainnya membendung sungai di lembah, menahan air dan menghambat drainase. Fenomena ini kerap terjadi di wilayah pegunungan Taiwan yang rawan gempa dan longsor. Tahun lalu, bencana serupa di Hualien menewaskan 19 orang ketika danau bendungan lain jebol saat Topan Super Ragasa, mengirimkan dinding air dan lumpur ke pemukiman warga.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan risiko bencana hidrometeorologi yang juga sering terjadi di Nusantara. Dengan topografi pegunungan dan curah hujan tinggi, Indonesia menghadapi ancaman serupa, terutama di daerah aliran sungai yang rawan longsor. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa banjir bandang dan longsor kerap dipicu oleh hujan ekstrem, seperti yang terjadi di Sulawesi Selatan dan Jawa Barat beberapa tahun terakhir. Sistem peringatan dini dan mitigasi berbasis komunitas menjadi kunci untuk mengurangi risiko, sebagaimana diterapkan Taiwan dengan evakuasi preventif.
Menurut para ahli meteorologi, hujan diperkirakan masih akan mengguyur Taiwan setidaknya selama sepekan ke depan, meski intensitasnya berangsur menurun. Namun, tidak semua dampak topan bersifat negatif. Taiwan sangat bergantung pada musim topan musim panas dan gugur untuk mengisi waduk setelah musim dingin yang kering. Tanpa curah hujan yang cukup, pulau ini bisa mengalami kekeringan seperti yang pernah melanda pada 2021, ketika produksi semikonduktor global terganggu akibat kelangkaan air.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah apakah Taiwan mampu menyeimbangkan antara kebutuhan air dan risiko bencana. Dengan perubahan iklim yang membuat cuaca ekstrem semakin sering terjadi, sistem mitigasi yang adaptif menjadi semakin mendesak. Bagi Indonesia, pengalaman Taiwan dalam mengelola danau bendungan alami dan evakuasi dini dapat menjadi pelajaran berharga dalam merancang kebijakan penanggulangan bencana yang lebih responsif.



