Likuiditas Perbankan Nigeria Anjlok 38%, Suku Bunga Pasar Uang Justru Mixed
Baca dalam 60 detik
- Bank Sentral Nigeria (CBN) menyerap likuiditas perbankan hingga N4,8 triliun melalui lelang OMO dalam dua hari, menyebabkan likuiditas sistem turun 37,77% menjadi N3,82 triliun.
- Meskipun likuiditas menyusut drastis, suku bunga pasar uang justru menunjukkan pergerakan beragam: Overnight rate turun 18 bps ke 22,15%, sementara Open Repo Rate stagnan di 22,00%.
- Imbal hasil rata-rata Surat Utang Nigeria (NTB) naik 17 bps ke 18,15%, mencerminkan sentimen bearish di pasar pendapatan tetap akibat permintaan investor yang melemah.

Bank Sentral Nigeria (CBN) menggelontorkan operasi pasar terbuka agresif yang menyedot likuiditas perbankan hingga N4,8 triliun hanya dalam dua hari, menyebabkan likuiditas sistem keuangan anjlok 37,77% menjadi N3,82 triliun pada Rabu lalu. Langkah ini memicu pergerakan beragam di pasar uang, dengan suku bunga jangka pendek justru turun di tengah tekanan likuiditas.
Menurut laporan Meristem Securities Limited, penurunan likuiditas tersebut dipicu oleh penjualan surat berharga di pasar perdana senilai N1,22 triliun. Sebelumnya, CBN telah merevisi penawaran Surat Utang Nigeria (NTB) menjadi N1 triliun dari sebelumnya N450 miliar, yang kemudian diikuti dengan lelang tambahan pada Senin dan Selasa. Total dana yang ditarik dari sistem perbankan mencapai N1,2 triliun pada tahap awal, sebelum diperparah oleh operasi lanjutan.
Meskipun likuiditas menyusut drastis, suku bunga pasar uang justru menunjukkan pergerakan yang tidak seragam. Overnight rate turun 18 basis poin (bps) menjadi 22,15%, sementara Open Repo Rate bertahan di level 22,00%. Suku bunga tenor 1 bulan, 3 bulan, dan 6 bulan masing-masing turun 28 bps, 70 bps, dan 96 bps. Kondisi ini mengindikasikan bahwa meskipun likuiditas ketat, permintaan dana jangka pendek tidak cukup kuat untuk mendorong suku bunga naik.
Di sisi lain, pasar surat utang justru menunjukkan tekanan. Imbal hasil rata-rata NTB melonjak 17 bps menjadi 18,15%, menandakan sentimen bearish di kalangan investor. Aktivitas perdagangan yang lesu dan permintaan yang melemah menjadi faktor utama di balik kenaikan imbal hasil tersebut. Analis menilai bahwa langkah agresif CBN dalam menyerap likuiditas bertujuan untuk mengendalikan inflasi dan menstabilkan nilai tukar naira, namun berpotensi menekan pasar obligasi dalam jangka pendek.
Bagi Indonesia, dinamika serupa pernah terjadi ketika Bank Indonesia (BI) melakukan operasi moneter ketat untuk menyerap likuiditas. Pengalaman Nigeria menunjukkan bahwa kebijakan penyerapan likuiditas yang masif dapat menyebabkan suku bunga acuan tetap tinggi sementara imbal hasil obligasi melonjak, yang pada akhirnya mempengaruhi biaya pendanaan pemerintah dan sektor swasta. Pelaku pasar Indonesia perlu mencermati langkah BI ke depan, terutama jika tekanan inflasi dan nilai tukar rupiah kembali meningkat.
Ke depan, pertanyaan kuncinya adalah apakah CBN akan melanjutkan operasi pasar terbuka agresif atau justru melonggarkan kebijakan jika pertumbuhan ekonomi terancam. Sementara itu, investor obligasi Nigeria dihadapkan pada dilema: imbal hasil tinggi namun risiko likuiditas dan volatilitas suku bunga yang meningkat.



