Neymar Kembali ke Panggung Piala Dunia: Sambutan Histeris di Miami
Baca dalam 60 detik
- Neymar tampil 20 menit dalam kemenangan Brasil 3-0 atas Skotlandia di Piala Dunia 2026, setelah absen hampir tiga tahun karena cedera ACL.
- Pelatih Carlo Ancelotti menegaskan Neymar tetap memiliki gairah yang sama dan dapat membantu tim, meski bukan lagi bintang utama.
- Kembalinya Neymar memicu euforia suporter Brasil yang merindukan gelar juara dunia, terakhir diraih pada 2002.

Neymar kembali merasakan atmosfer Piala Dunia setelah nyaris tiga tahun absen akibat cedera ligamen lutut. Dalam laga Grup C melawan Skotlandia di Miami Gardens, pemain berusia 34 tahun itu mendapat sambutan histeris dari puluhan ribu suporter Brasil yang memadati stadion.
Pelatih Brasil Carlo Ancelotti memberikan kesempatan kepada Neymar pada menit ke-76 menggantikan Matheus Cunha. Meski hanya bermain 20 menit, Neymar mencatatkan 24 sentuhan dan satu tembakan tepat sasaran. Ancelotti menilai penampilan Neymar cukup baik dan menegaskan bahwa pemain bernomor 10 itu tidak membutuhkan motivasi tambahan untuk membela negaranya.
โNeymar masih sama seperti dulu. Pada usia 34, dia memiliki gairah yang sama seperti saat masih kecil,โ ujar Ancelotti dalam konferensi pers usai pertandingan.
Brasil menang telak 3-0 berkat dua gol Vinicius Junior dan satu gol Matheus Cunha. Kemenangan ini membawa Brasil memuncaki klasemen Grup C, sementara Skotlandia berada di ambang eliminasi.
Kembalinya Neymar menjadi sorotan utama, mengingat ia bukan lagi andalan utama seperti di edisi-edisi sebelumnya. Namun, suporter Brasil tetap menaruh harapan besar. Seorang penggemar yang ditemui BBC Sport menyatakan bahwa Neymar bisa setara dengan Ronaldo atau Ronaldinho jika mampu membawa Brasil juara dunia. โMereka harus menghormati siapa dia dan siapa dia dulu. Jika tidak, dia akan membuat mereka membayarnya,โ ujar suporter tersebut.
Bagi Indonesia, kembalinya Neymar ke panggung Piala Dunia menjadi tontonan menarik. Popularitas sepak bola Brasil di Tanah Air sangat tinggi, dan momen seperti ini kerap menjadi bahan diskusi hangat di kalangan penggemar. Kehadiran Neymar juga menambah daya tarik komersial turnamen, termasuk potensi peningkatan penonton siaran langsung di Indonesia.
Ke depan, Brasil masih harus menghadapi lawan-lawan berat seperti Argentina dan Prancis. Konsistensi menjadi kunci bagi tim asuhan Ancelotti yang kerap tampil inkonsisten. Pertanyaannya, mampukah Neymar kembali menjadi pembeda di sisa turnamen, atau justru perannya akan semakin terbatas seiring regenerasi skuad?



