Penjara Bersejarah Nara Kini Jadi Hotel Mewah, Semalam Rp14 Juta
Baca dalam 60 detik
- Bekas penjara era Meiji di Nara, Jepang, resmi beroperasi sebagai hotel butik dengan tarif mulai 147.000 yen per malam.
- Sel isolasi seluas 4 meter persegi disulap menjadi kamar suite 60 meter persegi, memadukan sejarah dan kemewahan.
- Museum penjara di lokasi sama menawarkan tur interaktif untuk merenungkan arti kebebasan, dibatasi 10 peserta per sesi.

Bekas Penjara Nara, bangunan cagar budaya nasional Jepang peninggalan era Meiji, resmi dibuka sebagai hotel mewah bernama Hoshinoya Nara Prison pada 25 Juni 2025. Proyek adaptasi ini mengubah sel isolasi dan ruang tahanan menjadi 48 kamar suite dengan tarif mulai 147.000 yen atau sekitar Rp14,5 juta per malam, tidak termasuk makan.
Hotel yang dioperasikan Hoshino Resorts ini tetap mempertahankan fasad bata merah bergaya Barat, termasuk pintu besi, jendela ganda berjeruji, dan bata asli yang menjadi elemen desain interior. Konsepnya, "Dari Tembok Bersejarah Menuju Keanggunan Abadi", menandai babak baru bagi bangunan yang berfungsi sebagai lembaga pemasyarakatan hingga 2017. Gerbang depan hotel bahkan dibangun dari bata yang dibuat dan ditumpuk oleh narapidana.
Manajer umum hotel, Masaya Kakegawa, menegaskan bahwa properti ini tidak dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan. Menurutnya, penjara Nara sejak awal dirancang dengan perhatian pada hak asasi manusia dan berperan sebagai fasilitas korektif yang berorientasi masa depan. "Kami ingin tamu menghargai sejarah, bukan datang karena rasa takut," ujarnya.
Bagi pelancong Indonesia yang gemar wisata sejarah dan arsitektur, Hoshinoya Nara Prison menawarkan pengalaman menginap yang tak lazim. Namun, dengan tarif semalam setara gaji bulanan pekerja formal di Indonesia, hotel ini jelas menyasar segmen pasar kelas atas. Sebagai perbandingan, hotel-hotel butik serupa di kawasan Kansai biasanya dibanderol sepertiga dari harga tersebut.
Di samping hotel, Nara Prison Museum yang bersebelahan akan meluncurkan "Tur Menjelajahi Penjara dan Kebebasan" mulai 4 Juli. Kurator Toshimitsu Kasai, 70 tahun, berharap pengunjung merenungkan kebebasan sehari-hari yang sering dianggap remeh, seperti tidur di futon atau berkumpul dengan keluarga. Tur berlangsung sekitar satu jam dengan biaya 2.000 yen untuk dewasa, 1.000 yen untuk pelajar, dan 500 yen untuk anak-anak.
Proyek ini mengikuti tren global alih fungsi bangunan bersejarah menjadi hotel mewah, seperti bekas penjara di Boston dan Istanbul. Namun, di Indonesia, belum ada inisiatif serupa untuk bangunan cagar budaya bekas lembaga pemasyarakatan, misalnya Penjara Lama di Kota Tua Jakarta. Pertanyaannya, mungkinkah konsep serupa diadaptasi di tanah air dengan tetap menghormati nilai sejarah dan sensitivitas publik?



