Frasers Property Jual Lima Hotel ke Konglomerat Thailand, Restrukturisasi Portofolio Rp 24 Triliun
Baca dalam 60 detik
- Frasers Property melepas 63,28% saham di lima hotel senilai S$1,1 miliar ke TCC Group Investments, mitra lama di Frasers Hospitality Trust.
- Langkah ini memisahkan aset menjadi tiga kategori: stabil, potensial, dan non-inti, dengan target efisiensi modal dan nilai pemegang saham.
- Transaksi membutuhkan persetujuan 50% pemegang saham dalam RUPSLB dan ditargetkan rampung sebelum akhir tahun fiskal.

Frasers Property Limited, perusahaan properti multinasional asal Singapura, mengumumkan rencana restrukturisasi portofolio perhotelan senilai sekitar S$2,1 miliar (setara Rp 24 triliun) dengan menjual mayoritas saham di lima properti kepada TCC Group Investments Limited (TCCGI), konglomerat asal Thailand. Langkah ini diambil untuk meningkatkan efisiensi modal dan memberikan nilai jangka panjang bagi pemegang saham, sekaligus menandai babak baru dalam pengelolaan aset perhotelan grup.
Dalam keterbukaan informasi pada Kamis (25/6), Frasers Property menyatakan akan melepas 63,28% kepemilikannya di lima hotel yang dikategorikan sebagai aset stabil dengan imbal hasil lebih rendah. Kelima properti tersebut meliputi Frasers House di Singapura, The Westin Kuala Lumpur di Malaysia, Fraser Suites Queens Gate London dan Fraser Suites Edinburgh di Inggris, serta ANA Crowne Plaza Kobe dengan Koto No Hako di Jepang. Total nilai aset yang dialihkan mencapai S$1,1 miliar.
Setelah transaksi, portofolio perhotelan Frasers Property akan dibagi menjadi tiga kelompok. Empat properti di Australia dan Inggris, termasuk Novotel Sydney Darling Square dan Capri by Fraser Kensington, dikategorikan sebagai aset potensial senilai S$0,4 miliar yang diyakini mampu menghasilkan imbal hasil lebih tinggi. Sementara itu, empat properti non-inti di Australia, Jerman, dan Inggris senilai S$0,3 miliar akan disiapkan untuk divestasi oportunistik di masa depan. Fraser Suites Singapura, yang bernilai S$0,3 miliar, akan tetap dimiliki penuh oleh Frasers Property untuk potensi pembangunan kembali seluruh kawasan Valley Point.
Chief Financial Officer Frasers Property, Loo Choo Leong, menjelaskan bahwa restrukturisasi ini membebaskan modal untuk peluang dengan imbal hasil lebih tinggi, sembari mempertahankan pendapatan berulang melalui investasi bersama mitra. โIni memberikan efek positif yang jelas pada neraca dan metrik keuangan utama kami,โ ujarnya. Ia menegaskan bahwa perhotelan tetap menjadi inti bisnis perusahaan, dan langkah ini adalah transaksi struktur modal yang meringankan neraca.
Menariknya, proses penjualan tidak melalui lelang terbuka. Kelvin Tan, Kepala Merger dan Akuisisi Real Estat DBS Bank yang menjadi penasihat keuangan Frasers Property, mengungkapkan bahwa tidak ada pihak ketiga yang berminat. Beberapa calon pembeli menilai harga terlalu tinggi atau tidak setuju Frasers Property tetap mengelola aset. TCCGI, yang merupakan pemegang saham terbesar Frasers Property, dinilai menawarkan harga terbaik bagi pemegang saham. TCCGI saat ini memegang 36,72% saham Frasers Hospitality Trust dan akan menjadi pemilik mayoritas setelah transaksi.
Bagi pasar Indonesia, langkah Frasers Property mencerminkan tren global di mana perusahaan properti besar melakukan penataan portofolio untuk meningkatkan likuiditas dan fokus pada aset bernilai tambah. Meski tidak ada properti di Indonesia yang terdampak langsung, strategi ini bisa menjadi acuan bagi pengembang lokal yang memiliki portofolio perhotelan tersebar di beberapa negara. Efisiensi modal dan kemitraan strategis dengan investor institusional seperti TCCGI menjadi kunci dalam menghadapi tekanan imbal hasil di sektor perhotelan pascapandemi.
Restrukturisasi ini masih memerlukan persetujuan minimal 50% pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan digelar dalam waktu dekat. Jika disetujui, transaksi ditargetkan rampung sebelum akhir tahun fiskal. Pertanyaan besarnya, apakah langkah ini akan diikuti oleh pemain properti lain di Asia Tenggara untuk mengoptimalkan portofolio mereka di tengah ketidakpastian ekonomi global?



