Prabowo Berkelakar soal Panglima dan Kapolri: Ada Nama Saya, Sulit Diganti
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo melontarkan candaan bahwa Panglima TNI dan Kapolri sulit diganti karena nama mereka mengandung unsur namanya.
- Candaan tersebut disampaikan dalam acara Penas Petani dan Nelayan di Gorontalo, disambut meriah oleh hadirin.
- Momen serupa juga terjadi saat Prabowo menyapa Seskab Teddy Indra Wijaya dan Gubernur Malut Sherly Tjoanda, yang mendapat sambutan hangat.

Presiden Prabowo Subianto melontarkan candaan ringan di hadapan ribuan petani dan nelayan di Gorontalo, Rabu (24/6), bahwa Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo sulit diganti. Alasannya, nama kedua pimpinan lembaga keamanan itu mengandung unsur nama dirinya.
Dalam sambutannya di Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII, Prabowo dengan nada bercanda mengatakan, "Panglima TNI Agus Subiyanto, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Panglima TNI ada Subiyanto-nya, Kapolri ada Prabowo-nya. Susah kalau diganti." Ucapan itu sontak disambut sorak sorai dan tepuk tangan meriah dari para hadirin yang memenuhi lokasi acara.
Momen serupa terulang ketika Prabowo menyebut nama Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya. Sorakan keras kembali menggema, membuat Prabowo berkelakar, "Baru Letkol, Letkol kok disambut kaya begitu, yang presiden aku." Candaan itu kembali memicu tawa dan tepuk riuh dari peserta.
Tak hanya itu, saat Prabowo memperkenalkan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, sambutan hangat kembali terdengar. Sherly yang berdiri di samping panggung tersenyum lebar, sementara Prabowo berkomentar, "Seperti menang Piala Citra." Komentar tersebut disambut gelak tawa hadirin, menunjukkan suasana akrab antara pemimpin dan rakyat.
Penas Petani dan Nelayan XVII sendiri merupakan ajang tahunan yang mempertemukan para pelaku sektor pertanian dan perikanan dari seluruh Indonesia. Acara ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk mendengarkan aspirasi petani dan nelayan, sekaligus memperkuat komitmen terhadap ketahanan pangan nasional. Kehadiran Prabowo dengan gaya santai dan humoris dinilai mampu mencairkan suasana dan mendekatkan diri dengan masyarakat.
Ke depan, candaan semacam ini kerap menjadi perekat hubungan antara pemimpin dan rakyat. Namun, di balik kelakar tersebut, publik tetap menanti langkah konkret pemerintah dalam mendukung kesejahteraan petani dan nelayan, terutama di tengah tantangan perubahan iklim dan fluktuasi harga komoditas.



