Elliot Dee: Dari Bangku Cadangan ke Panggung Barbarians, Buktikan Diri di Hadapan Wales
Baca dalam 60 detik
- Elliot Dee, hooker Wales dengan 55 caps, akan membela Barbarians melawan Wales di Twickenham setelah absen dari skuad musim panas.
- Pemain 32 tahun itu melihat laga ini sebagai ajang unjuk kemampuan kepada pelatih Steve Tandy demi merebut kembali tempat di timnas.
- Dee bergabung dengan Barbarians secara mendadak dan merasakan pengalaman unik yang menurutnya penting untuk menjaga semangat rugby profesional.

Elliot Dee, hooker Wales yang telah mengoleksi 55 caps dan dua partisipasi Piala Dunia, akan memulai laga spesial pada Sabtu ini—bukan dengan seragam merah Wales, melainkan sebagai starter untuk Barbarians saat menghadapi negaranya sendiri di Allianz Stadium, Twickenham.
Pemain berusia 32 tahun itu menjadi salah satu dari dua pemain Wales yang memperkuat tim undangan tersebut, bersama George North yang akan pensiun setelah pertandingan. Dee, yang terakhir membela Wales pada kekalahan telak 68-14 dari Inggris di Six Nations Maret 2025, harus menerima kenyataan tidak dipanggil Steve Tandy untuk tur musim panas. Empat hooker lain—Dewi Lake, Ryan Elias, Liam Belcher, dan Evan Lloyd—lebih dipilih.
Bagi Dee, laga ini bukan sekadar pertandingan akhir musim. “Saya sangat menikmati bermain untuk Wales, tidak ada yang bisa menggantikan sensasi itu,” ujarnya. “Sayangnya, saya tidak mendapat banyak kesempatan setahun terakhir. Ambisi saya masih besar.” Dengan kata lain, ini adalah panggung untuk membuktikan bahwa dirinya masih layak diperhitungkan di level internasional.
Keputusan Tandy meninggalkan Dee justru membuka pintu tak terduga. Dee mendapat panggilan Barbarians pada Minggu pagi, hanya beberapa jam sebelum harus terbang ke Afrika Selatan. “Saya sedang di lantai bawah bersama anak-anak, istri masih tidur. Telepon masuk: 'Bisa terbang ke Afrika Selatan siang ini?' Tanpa ragu saya jawab ya,” kenang Dee. Pengalaman singkat bersama Barbarians, termasuk kekalahan dari Springboks, justru menjadi momen paling menyenangkan dalam kariernya. “Ini mungkin yang paling menyenangkan yang pernah saya alami di lapangan. Rugby kadang terlalu serius, banyak tekanan. Tim ini mengembalikan kegembiraan,” tambahnya.
Dee juga menyoroti pentingnya keberadaan Barbarians di era profesional. Menurutnya, tim undangan seperti ini memberikan ruang bagi pemain untuk berkreasi tanpa beban. “Anda mencoba hal-hal yang mungkin tidak akan Anda coba di tim tes. Dan anehnya, dengan jersey Barbarians, hal-hal itu sering berhasil,” katanya. Kedatangan Faf de Klerk, yang baru seminggu lalu mengalahkan Barbarians, menambah warna. “Dia penuh energi, karakter besar, dan pasti akan mencoba beberapa trik untuk menghibur penonton,” ujar Dee.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, pertandingan ini mungkin hanya tontonan ekshibisi. Namun, kisah Dee mengingatkan bahwa di balik setiap laga ada drama personal—perjuangan pemain yang terpinggirkan untuk kembali ke puncak. Di tengah dominasi rugby Eropa dan Selatan, momen seperti ini juga menjadi cermin bagaimana olahraga tetap membutuhkan elemen kejutan dan kebebasan. Pertanyaannya, akankah penampilan Dee akhir pekan ini cukup untuk mengubah keputusan Tandy? Atau justru menjadi akhir perjalanan internasionalnya?



