Anthropic Tuding Alibaba Curi Kemampuan AI Claude: Ancaman bagi Keamanan Siber Global
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan AI AS, Anthropic, menuduh Alibaba melakukan serangan distilasi skala besar terhadap model Claude dengan 29 juta interaksi palsu.
- Praktik ini memungkinkan perusahaan China meniru kemampuan AI AS dengan biaya rendah, mengancam investasi dan keamanan nasional.
- Kasus ini menyoroti kerentanan rantai pasok AI global dan potensi dampaknya terhadap industri teknologi di Indonesia.

Perusahaan kecerdasan buatan (AI) asal Amerika Serikat, Anthropic, secara terbuka menuduh raksasa e-commerce dan teknologi China, Alibaba, telah melakukan pencurian besar-besaran terhadap kemampuan model AI Claude miliknya. Dalam surat yang dikirimkan kepada dua senator AS, Anthropic mengungkapkan bahwa operator yang terkait dengan Alibaba telah melakukan hampir 29 juta interaksi dengan Claude menggunakan ribuan akun palsu, yang disebut sebagai kampanye ekstraksi terbesar yang pernah terjadi.
Serangan yang dikenal dengan istilah 'distillation attack' ini bekerja dengan cara mengekstrak jawaban dari model AI yang lebih kuat untuk melatih model yang lebih lemah. Menurut Anthropic, para pelaku menargetkan fitur paling berharga dari Claude, termasuk kemampuannya menangani tugas yang panjang dan kompleks serta pendekatannya dalam pengambilan keputusan. Praktik ini dilakukan dalam skala industri, memungkinkan perusahaan China memanen dan mengemas ulang kemampuan AI AS sebagai milik mereka sendiri.
Anthropic mendesak Kongres AS untuk memberikan sanksi kepada perusahaan di balik serangan semacam ini dan meningkatkan langkah-langkah untuk mencegah pencurian teknologi AS. Perusahaan itu juga mengutip klaim Departemen Pertahanan AS yang menyebut Alibaba, BYD, dan Baidu terkait dengan militer China, meskipun perusahaan-perusahaan tersebut telah membantah tuduhan itu. Alibaba bahkan baru saja menggugat pemerintah AS untuk dihapus dari daftar hitam Pentagon.
Kasus ini bukanlah yang pertama kali terjadi. OpenAI, pengembang ChatGPT, sebelumnya juga menuduh kelompok China menggunakan praktik serupa. Fenomena ini menunjukkan bahwa persaingan teknologi antara AS dan China semakin memanas, dengan AI sebagai medan pertempuran utama. Bagi Indonesia, situasi ini menjadi pengingat akan pentingnya kemandirian teknologi dan perlindungan kekayaan intelektual di era digital.
"Serangan distilasi mengubah investasi Amerika senilai ratusan miliar dolar menjadi subsidi besar-besaran bagi pesaing geopolitik kita," tulis Anthropic dalam suratnya.
Di tengah ketegangan ini, Anthropic dan OpenAI bersiap untuk melakukan debut pasar saham yang dapat menjadikan mereka salah satu perusahaan paling bernilai di dunia. Namun, beberapa model canggih Anthropic, seperti Mythos, telah menimbulkan kekhawatiran keamanan siber karena kemampuannya menargetkan kelemahan sistem komputer. Pertanyaannya, apakah langkah-langkah perlindungan yang ada saat ini cukup untuk mengamankan inovasi AI dari pencurian skala besar?



