IHSG Menguat 1,11% di Tengah Kepastian Status Emerging Market dan Tekanan Rupiah
Baca dalam 60 detik
- IHSG dibuka menguat 65,34 poin ke 5.949,22 pada Kamis (25/6/2026) didorong keputusan MSCI yang mempertahankan Indonesia sebagai Emerging Market.
- MSCI memberikan catatan reformasi pasar modal yang akan dievaluasi November 2026, sementara rupiah masih tertekan di Rp17.925/US$ akibat penguatan dolar AS.
- Pelaku pasar mencermati rilis inflasi PCE AS dan data klaim pengangguran yang dapat memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Kamis (25/6/2026) dengan lonjakan signifikan, menguat 1,11% ke level 5.949,22, setelah keputusan MSCI yang mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market meredakan kekhawatiran investor akan arus modal keluar besar-besaran.
Data perdagangan hingga pukul 09.18 WIB mencatat nilai transaksi mencapai Rp1,88 triliun dengan volume 3,15 miliar saham. Sebanyak 403 saham menguat, 167 melemah, dan 389 stagnan, menunjukkan optimisme yang cukup merata di pasar. Sejak awal sesi, indeks sempat menyentuh level terendah 5.864 sebelum berbalik ke zona hijau.
Keputusan MSCI menjadi katalis utama pagi ini. Lembaga indeks global itu tidak hanya mempertahankan Indonesia di kategori Emerging Market, tetapi juga memberikan catatan terkait transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan efektivitas reformasi pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah menyambut baik keputusan tersebut, menilai hal ini mencerminkan kepercayaan investor global. Namun, MSCI akan kembali mengevaluasi perkembangan reformasi pada November 2026, yang berarti ada tenggat waktu bagi regulator untuk membenahi sejumlah celah.
Di sisi eksternal, perhatian investor tertuju pada rilis inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat, yang menjadi acuan utama Federal Reserve dalam menentukan suku bunga. Jika inflasi PCE kembali meningkat, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) akan menguat, mendorong dolar AS dan imbal hasil Treasury naik. Kondisi ini berpotensi menekan aset berisiko di negara berkembang, termasuk IHSG dan rupiah. Data klaim pengangguran mingguan AS juga akan dirilis untuk memberikan gambaran terkini pasar tenaga kerja.
Tekanan terhadap rupiah sudah terlihat sejak Rabu (25/6/2026) saat mata uang Garuda ditutup melemah 0,50% ke level Rp17.925/US$, melanjutkan pelemahan empat hari beruntun. Indeks dolar AS yang telah menembus level 101,609 menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan rupiah dan berpotensi memicu arus modal keluar dari pasar saham domestik. Bagi investor Indonesia, kombinasi antara sentimen positif MSCI dan tekanan eksternal dari kebijakan moneter AS menciptakan dinamika yang perlu dicermati.
Ke depan, kemampuan IHSG untuk mempertahankan momentum penguatan akan sangat bergantung pada data inflasi PCE AS dan komitmen OJK dalam menjalankan reformasi pasar modal. Jika MSCI menilai perbaikan tidak memadai pada November mendatang, risiko downgrade ke Frontier Market bisa kembali menghantui, yang berpotensi memicu arus keluar dana asing lebih besar. Pertanyaannya, akankah optimisme hari ini bertahan atau hanya sekadar reli sementara di tengah ketidakpastian global?



