Demo Mahasiswa dan Rupiah: Antara Korelasi Semu dan Sentimen Domestik
Baca dalam 60 detik
- Demonstrasi mahasiswa yang marak belakangan ini dipicu oleh pelemahan rupiah, kenaikan BBM, dan kasus korupsi MBG.
- Akademisi menilai demo di Indonesia dianggap investor sebagai dinamika biasa, tidak serta-merta menekan nilai tukar.
- Penguatan rupiah saat aksi berlangsung lebih merupakan kebetulan statistik, bukan dampak langsung unjuk rasa.

Gelombang demonstrasi mahasiswa yang meluas di berbagai daerah kembali menguji ketahanan ekonomi Indonesia di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS. Namun, alih-alih memperburuk sentimen, sejumlah pengamat justru melihat bahwa aksi massa ini tidak selalu menjadi momok bagi pasar modal dan mata uang.
Dalam sepekan terakhir, ribuan mahasiswa turun ke jalan menuntut stabilisasi rupiah, peninjauan ulang kenaikan harga BBM non-subsidi, serta evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah diterpa kasus korupsi. Tuntutan ini muncul di tengah gejolak global seperti ketegangan di Selat Hormuz dan pelemahan ekonomi nasional yang diperparah oleh kebijakan fiskal domestik.
Rayenda Brahmana, pengajar bidang Finance and Business Analytics dari Deakin University Lancaster University Indonesia, mengungkapkan bahwa fenomena aneh terjadi pada rupiah. Di saat mata uang negara tetangga seperti ringgit Malaysia dan dolar Singapura menguat, rupiah justru terus terdepresiasi. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa akar masalah bukan semata faktor eksternal, melainkan lebih pada sentimen dan tata kelola dalam negeri.
Menariknya, di tengah demonstrasi yang berlangsung, rupiah justru mencatat penguatan tipis dari Rp18.000 ke Rp17.800. Hal ini memicu narasi di media sosial bahwa aksi mahasiswa berdampak positif pada ekonomi. Namun, Rayenda dengan tegas meluruskan anggapan tersebut. Dalam statistik, fenomena ini disebut spurious correlation atau korelasi semuโdua peristiwa yang tampak berhubungan padahal tidak saling memengaruhi.
โPenguatan rupiah saat demo adalah kebetulan belaka. Dorongan utamanya berasal dari sentimen positif lain, seperti ekspektasi kebijakan moneter atau aliran modal asing,โ ujar Rayenda dalam diskusi SuarAkademia. Ia menambahkan bahwa investor global sudah terbiasa dengan dinamika demokrasi di Indonesia. Berbeda dengan negara seperti Singapura, China, atau Malaysia yang jarang terjadi demonstrasi, aksi kecil saja di sana bisa langsung menciptakan ketidakpastian yang signifikan.
Bagi Indonesia, demo dianggap sebagai bagian dari iklim demokrasi yang aktif. Investor telah memetakan risiko ini dan tidak serta-merta menarik modal saat unjuk rasa terjadi. Namun, Rayenda mengingatkan bahwa jika demonstrasi berlangsung secara berkepanjangan atau disertai kekerasan, persepsi risiko bisa berubah. โKuncinya adalah durasi dan eskalasi. Demo satu hari masih wajar, tapi jika berlarut-larut, investor akan mulai khawatir,โ katanya.
Ke depan, stabilitas rupiah akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah mengelola sentimen domestik, bukan pada ada atau tidaknya aksi massa. Pertanyaan yang tersisa: mampukah pemerintah menjawab tuntutan mahasiswa dengan kebijakan yang kredibel, atau justru semakin memperburuk kepercayaan pasar?



