Jepang Target Juara Grup F Piala Dunia 2026: Moriyasu Pede Hadapi Swedia
Baca dalam 60 detik
- Samurai Biru mengincar puncak klasemen Grup F saat berhadapan dengan Swedia, dengan kemenangan atau hasil imbang sudah cukup melaju ke babak 32 besar.
- Pelatih Hajime Moriyasu menilai keunggulan bermain di Estadio Monterrey, venue yang sudah dikenal tim, menjadi motivasi ekstra untuk finis pertama.
- Graham Potter, juru taktik Swedia yang membawa timnya dari kegagalan kualifikasi Eropa ke putaran final, mendapat pujian atas kemampuannya membangun skuad solid dalam waktu singkat.

Pelatih tim nasional Jepang, Hajime Moriyasu, secara tegas menyatakan ambisinya membawa Samurai Biru keluar sebagai juara Grup F Piala Dunia 2026 saat mereka bersiap menghadapi Swedia pada laga pamungkas fase grup, Kamis (25/6) waktu setempat. Target ini bukan sekadar gengsi, melainkan strategi untuk mendapatkan jalur yang lebih menguntungkan di babak gugur.
Jepang saat ini mengoleksi empat poin, sama dengan Belanda yang memimpin grup berkat keunggulan selisih gol. Belanda akan berhadapan dengan Tunisia yang sudah tersingkir. Sementara Swedia mengantongi tiga poin. Hasil imbang sudah cukup mengamankan tiket Jepang ke babak 32 besar, namun Moriyasu menolak bermain aman. “Kami selalu bermain untuk menang, dan itu sudah menjadi pemikiran bersama dalam persiapan,” ujarnya dalam konferensi pers di Dallas Stadium, Rabu (24/6).
Jika berhasil memuncaki grup, Jepang akan kembali ke Estadio Monterrey di Meksiko, stadion yang sudah mereka kenal setelah menghancurkan Tunisia 4-0 di laga kedua. Sebaliknya, jika hanya menjadi runner-up, mereka harus pindah markas ke Houston. “Kami ingin finis pertama karena akan lebih baik jika bisa bermain di Monterrey. Kami sudah menjalani kamp pelatihan di sana, bermain melawan Tunisia, dan para pemain sudah merasakan atmosfer stadion. Itu keuntungan tersendiri,” kata Moriyasu.
Laga ini juga mempertemukan dua pelatih dengan latar belakang menarik. Graham Potter, manajer Swedia yang pernah menangani Brighton, Chelsea, dan West Ham, berhasil membawa Swedia lolos ke Piala Dunia 2026 melalui babak playoff setelah gagal di kualifikasi Eropa. Moriyasu memberikan pujian tinggi kepada Potter. “Saya pikir Mr. Potter adalah pelatih yang luar biasa. Dia pernah menjadi manajer Kaoru Mitoma di Brighton, dan saya sudah mengikuti permainannya sejak saat itu. Dia membangun tim Swedia yang hebat dengan memaksimalkan kemampuan setiap individu dalam waktu singkat. Saya tidak melihat titik lemah, dan saya ingin orang-orang melihat sendiri dalam pertandingan besok apakah ada,” ujar Moriyasu.
Potter, di sisi lain, mengakui kualitas Mitoma yang sangat tinggi dan mengaku timnya kehilangan pemain bintang tersebut. Namun, Jepang dinilai mampu menemukan solusi tanpa sang andalan. “Ini adalah profil pemain yang berbeda, sedikit berbeda, tapi tetap menjadi solusi. Yang mengesankan adalah secara kolektif mereka mampu menemukan cara bermain tanpa dia. Sepak bola adalah permainan tim, dan Jepang memainkan sepak bola tim dengan sangat, sangat baik,” kata Potter.
Swedia memulai turnamen dengan menghancurkan Tunisia 5-1, sebelum dibantai Belanda dengan skor identik. Moriyasu mengaku lebih banyak belajar dari pertandingan Swedia kontra Tunisia. “Mereka menunjukkan daya gedor di lini depan dan kekuatan fisik dalam situasi bertahan. Saya secara khusus meminta para pemain belakang untuk menikmati duel melawan pemain kelas dunia seperti Alexander Isak dan Viktor Gyokeres, gunakan momen ini untuk meningkatkan level individu mereka, apa pun hasil pertandingannya,” tegasnya.
Bagi Indonesia, perjalanan Jepang di Piala Dunia 2026 menjadi cermin bagaimana sebuah tim Asia bisa bersaing di panggung global. Keberanian Moriyasu menargetkan juara grup dan kemampuannya beradaptasi tanpa pemain bintang menjadi pelajaran berharga. Sementara itu, duel antara dua pelatih dengan filosofi berbeda—Moriyasu yang pragmatis dan Potter yang taktis—akan menjadi tontonan menarik. Akankah Jepang mampu mempertahankan performa impresif mereka dan mengamankan posisi puncak? Ataukah Swedia yang bangkit kembali setelah kekalahan telak?



