Harta Karun Sukabumi: Emas 7 Kg dan Berlian 4 Kg yang Disimpan di Bank Kakek Prabowo
Baca dalam 60 detik
- Pasukan TNI di bawah Letkol Alex Kawilarang menemukan emas dan berlian di Cigombong pada 1946, yang kemudian disimpan di BNI pimpinan Margono Djojohadikusumo.
- Temuan bernilai hampir Rp6 miliar saat itu terdiri dari 7 kg emas dan 4 kg berlian, berasal dari Perkebunan Pondok Gede.
- Kawilarang menolak menyimpan harta tersebut dan menegaskan seluruhnya diserahkan kepada negara untuk perjuangan kemerdekaan.

Pada pertengahan 1946, pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tengah mengamankan bekas wilayah pendudukan Jepang di Cigombong, Bogor—kini menjadi jalur menuju Sukabumi—secara tidak sengaja menemukan harta karun berupa emas dan berlian. Penemuan yang bermula dari penggalian peti medis ini berujung pada penyerahan harta senilai hampir Rp6 miliar ke Bank Negara Indonesia (BNI) di Yogyakarta, yang saat itu dipimpin oleh Margono Djojohadikusumo, kakek Presiden Prabowo Subianto.
Operasi yang dipimpin Letnan Kolonel Alex Evert Kawilarang itu awalnya menemukan sebuah peti besar yang diduga berisi perlengkapan medis. Namun, saat dibuka, peti tersebut justru berisi kondom. Penggalian dilanjutkan dan kembali menemukan bom aktif yang meledak, melukai sejumlah prajurit. Barulah kemudian Sersan Mayor Sidik bersama anggota polisi tentara dan rakyat menemukan sebuah guci besar berisi kaus kaki yang ternyata penuh emas, permata, dan berlian.
Kawilarang, yang dikenal sebagai perwira tegas, menolak keras godaan untuk menyimpan harta tersebut. Ia segera melaporkan temuan itu kepada Residen Bogor, Moerdjani, yang kemudian mengarahkan agar harta diserahkan ke Kementerian Dalam Negeri di Yogyakarta. Demi keamanan, Kawilarang memerintahkan Letnan Godjali untuk mengantar langsung emas dan berlian itu ke pemerintah pusat.
Menurut catatan majalah Ekspres edisi 29 September 1972, harta tersebut terdiri dari 7 kilogram emas dan 4 kilogram berlian yang berasal dari Perkebunan Pondok Gede, Bogor. Kawilarang dalam memoarnya menegaskan, "Ini untuk berjuang!" saat menolak pihak-pihak yang bernafsu atas harta tersebut. Ia bersikeras bahwa seluruh temuan harus diserahkan kepada negara untuk mendukung perjuangan kemerdekaan.
Kisah ini kembali mencuat ke publik setelah Presiden Prabowo Subianto menyebutkan penemuan emas di Sukabumi dalam pidatonya, meski lokasi dan detailnya berbeda. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa harta karun era Soekarno ini memiliki kaitan langsung dengan keluarga Prabowo melalui kakeknya, Margono Djojohadikusumo, yang saat itu menjabat sebagai direktur utama BNI. Margono adalah pendiri BNI dan tokoh penting dalam perbankan nasional.
Bagi pembaca Indonesia, kisah ini tidak hanya bernilai sejarah, tetapi juga menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan aset negara. Di tengah maraknya wacana tentang potensi kekayaan alam Indonesia, penemuan emas dan berlian pada masa revolusi ini mengingatkan bahwa setiap temuan berharga harus dikelola secara benar untuk kepentingan bangsa. Pertanyaan yang muncul kemudian: apakah masih ada harta karun lain yang belum terungkap dari masa lalu, dan bagaimana negara memastikan aset-aset tersebut tidak hilang ditelan zaman?



