T20 World Cup: Inggris Lolos ke Semifinal Usai Bekuk West Indies
Baca dalam 60 detik
- Inggris mengalahkan West Indies dengan skor 186-7 berbanding 148-5 di Lord's, memastikan tiket semifinal Piala Dunia T20 putri.
- Kapten West Indies Hayley Matthews menjadi sorotan setelah keputusan kontroversial caught behind, sementara Inggris sempat kecolongan enam tangkapan di babak kedua.
- Inggris kini dalam enam kemenangan beruntun dan berpotensi menghadapi Afrika Selatan atau India di semifinal.

Inggris memastikan tempat di semifinal Piala Dunia T20 putri setelah mengalahkan West Indies dengan selisih 38 run di Lord's, London, dalam pertandingan yang diwarnai keputusan kontroversial dan sejumlah peluang terlepas.
Dalam kondisi cuaca panas, Inggris mencetak 186-7 berkat kontribusi Danni Wyatt-Hodge (65) dan Heather Knight (43). Skor tersebut menjadi yang tertinggi dalam pertandingan T20 putri di Lord's. West Indies, yang sebelumnya menyingkirkan Inggris di edisi lalu, hanya mampu membalas 148-5.
Kapten West Indies Hayley Matthews menjadi pusat perhatian setelah diberikan out caught behind melalui review pada over keempat. Matthews tampak tidak puas dengan keputusan tersebut meskipun teknologi Ultra-edge menunjukkan adanya spike. Tanpa kontribusi Matthews, West Indies kesulitan mengejar target.
Inggris sempat menurunkan performa di babak kedua dengan melewatkan enam tangkapan, meskipun sebagian besar merupakan peluang sulit. Penjaga gawang Amy Jones menjadi yang paling bersalah, gagal menangkap bola dari Jahzara Claxton. Namun, pelatih dan pemain menganggap hal itu sebagai noda kecil di tengah dominasi mereka.
Inggris menunjukkan adaptasi taktik yang baik terhadap permukaan lapangan yang lambat dengan banyak menggunakan pukulan sweep dan reverse sweep, mencetak 49% run di belakang square. Mereka juga berlari sejauh 79 run, angka impresif di tengah panas.
Kapten Nat Sciver-Brunt masih dalam pemulihan cedera betis dan kemungkinan tidak akan diturunkan pada pertandingan grup terakhir melawan Selandia Baru. Namun, kedalaman skuad Inggris terlihat saat Charlie Dean dan Sophie Ecclestone menambahkan tiga boundary di over terakhir.
Bagi Indonesia, performa Inggris ini menjadi pelajaran tentang pentingnya konsistensi dan adaptasi taktik di turnamen global. Meskipun kriket putri belum sepopuler di Indonesia, perkembangan tim-tim seperti Inggris menunjukkan standar profesionalisme yang bisa menjadi inspirasi.
Pertanyaan selanjutnya: mampukah Inggris mempertahankan momentum dan akhirnya merebut gelar setelah sering gagal di momen krusial? Atau akankah lawan seperti Afrika Selatan atau India menjadi batu sandungan?



