Tekanan Maksimal: Ben Stokes Akui Beban Terberat Sebagai Kapten Inggris
Baca dalam 60 detik
- Kapten Ben Stokes menyebut tekanan menjelang Tes ketiga melawan Selandia Baru sebagai yang tertinggi dalam empat tahun kepemimpinannya.
- Inggris belum memenangkan seri Tes dalam 18 bulan, hanya meraih dua kemenangan dari sembilan laga terakhir.
- Stokes membantah adanya keretakan dengan pelatih Brendon McCullum, namun enggan mengomentari dukungan dari ECB.

Kapten tim kriket Inggris, Ben Stokes, mengakui bahwa tekanan yang dihadapinya menjelang pertandingan Tes ketiga melawan Selandia Baru di Trent Bridge pekan ini adalah yang terbesar selama empat tahun masa kepemimpinannya. Pernyataan itu muncul di tengah gejolak internal tim yang dipicu oleh kekalahan di Tes kedua dan serangkaian kontroversi di luar lapangan.
Inggris saat ini berada dalam situasi genting. Setelah hasil imbang 1-1 dalam seri melawan Selandia Baru, tim asuhan Stokes belum sekalipun memenangkan seri Tes dalam 18 bulan terakhir. Dari sembilan pertandingan Tes terakhir, hanya dua kemenangan yang berhasil diraih. Catatan buruk ini diperparah oleh isu disiplin pemain, investigasi internal, dan spekulasi tentang hubungan antara Stokes dengan pelatih kepala Brendon McCullum.
Dalam konferensi pers pada Rabu (12/6), Stokes tampak emosional saat berbicara tentang dua pekan terakhir yang penuh gejolak. Ia menegaskan bahwa tidak ada masalah antara dirinya dan McCullum, pernyataan yang selaras dengan apa yang dikatakan McCullum sehari sebelumnya. Namun, ketika ditanya mengenai dukungan dari England and Wales Cricket Board (ECB), Stokes memberikan jawaban yang diplomatis: "Itu adalah proses yang harus dijalani. Prosesnya sudah selesai." ECB sendiri membantah adanya permintaan agar Stokes mundur dari jabatan kapten.
Pertandingan di Trent Bridge ini menjadi ujian nyata bagi skuad Inggris. Stokes menurunkan tim inti terbaiknya dan berharap para pemain bintang segera menunjukkan performa terbaik. Jofra Archer, yang tampil impresif namun inkonsisten di The Oval, dituntut untuk membayar kepercayaan yang diberikan padanya. Jacob Bethell, yang hanya tampil 14 kali dalam kriket kelas berat selama 18 bulan terakhir, juga harus membuktikan bahwa kesuksesannya di Sydney bukan sekadar kebetulan. Sementara itu, pembuka Ben Duckett belum mencetak setengah abad dalam 14 inning Tes terakhir.
Di sisi lain, tim pelatih Inggris telah melakukan evaluasi. Mereka mengakui kekurangan jumlah staf pelatih selama tur Australia dan kini telah menambah personel untuk meningkatkan kualitas latihan. Sarah Taylor, mantan pemain wanita Inggris, bekerja keras melatih teknik wicketkeeping Jamie Smith dan membantu Josh Tongue mengatasi cedera bahu. Jeetan Patel pun memberikan perhatian ekstra kepada Shoaib Bashir.
Trent Bridge sendiri memiliki sejarah manis bagi beberapa pemain Inggris. Joe Root memiliki rata-rata hampir 70 di lapangan ini, sementara Shoaib Bashir mengoleksi hampir seperempat dari 68 wicket Tes-nya di Nottingham. Bagi Stokes, Trent Bridge adalah tempat ia meraih kemenangan Ashes pertamanya pada 2015 dan menjadi saksi lahirnya era Bazball saat mengalahkan Selandia Baru empat tahun lalu. Namun, lapangan yang sama juga menjadi tempat ia kembali bermain setelah dibebaskan dari tuduhan perkelahian pada 2018, saat sebagian penonton mencemoohnya.
"Suasananya selalu luar biasa," ujar Stokes. "Saya rasa tidak akan berbeda minggu ini. Setelah semua yang terjadi, saya menghargai dukungan, dan tim juga menghargainya. Jangan hanya bersorak untuk saya, bersoraklah untuk 11 pemain yang akan berjuang demi kemenangan seri."
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Inggris bangkit dari keterpurukan, atau justru tenggelam dalam pusaran krisis yang semakin dalam? Satu hal yang pasti, tidak ada tempat bersembunyi bagi Stokes dan anak asuhnya di Trent Bridge pekan ini.



