Saham Semen Ambruk, Investor Bursa Nigeria Rugi Rp 34 Triliun dalam Sehari
Baca dalam 60 detik
- Indeks NGX anjlok 2,35% pada Rabu (12/2) akibat aksi ambil untung di saham semen dan blue-chip, memangkas kapitalisasi pasar hingga Rp 34 triliun.
- Tekanan jual terbesar berasal dari saham Dangote Cement dan BUA Cement yang masing-masing turun 10%, memicu koreksi di seluruh sektor industri.
- Koreksi ini menghentikan tren positif dua hari sebelumnya dan menandai pelemahan terbesar dalam sepekan terakhir di bursa Nigeria.

Bursa efek Nigeria (NGX) kehilangan kapitalisasi pasar hingga 3,64 triliun naira atau setara Rp 34 triliun dalam sehari setelah aksi jual besar-besaran melanda saham-saham semen dan unggulan, Rabu (12/2). Indeks utama NGX ambruk 2,35%, menghentikan reli dua hari berturut-turut yang sebelumnya berhasil dibukukan.
Indeks All-Share NGX terkoreksi 5.668,65 basis poin ke level 235.074,54, sementara kapitalisasi pasar menyusut dari Rp 1.450 triliun menjadi Rp 1.416 triliun. Volume transaksi harian juga merosot 13,6%, dengan nilai transaksi anjlok 46,81% menjadi hanya 20,93 miliar naira. Sebanyak 488,08 juta unit saham berpindah tangan dalam 46.239 deal sepanjang hari.
Tekanan jual terfokus pada saham-saham semen raksasa. Dangote Cement dan BUA Cement sama-sama ambrol 10%, menjadikannya pemimpin kerugian di papan utama. Geregu Power yang sebelumnya menjadi saham paling aktif berdasarkan nilai transaksi juga ikut tertekan 10%. Secara keseluruhan, 38 saham ditutup di zona merah, berbanding hanya 16 saham yang menguat.
Koreksi ini dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) yang masif di saham-saham berkapitalisasi menengah dan besar. Para analis menilai bahwa setelah reli dua hari sebelumnya, investor memilih merealisasikan keuntungan di tengah ketidakpastian suku bunga dan tekanan inflasi di Nigeria. Sektor barang industri menjadi yang paling terpukul dengan pelemahan 8,31%, disusul sektor asuransi (-0,97%), perbankan (-0,71%), barang konsumen (-0,29%), dan migas (-0,11%).
Di sisi lain, beberapa saham justru mencatatkan penguatan. Sky Aviation memimpin daftar penguat dengan kenaikan 9,92%, diikuti Intense Insurance (9,66%), Tantalizer (6,98%), dan Omatek (5,70%). Namun, jumlah saham yang turun lebih dari dua kali lipat dibandingkan yang naik, menandakan sentimen pasar yang masih rapuh.
Bagi investor Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko konsentrasi di sektor komoditas dan ketergantungan pada saham-saham besar. Bursa Efek Indonesia (BEI) pun pernah mengalami fenomena serupa saat saham-saham batu bara dan sawit ambruk akibat aksi jual asing. Koreksi di Nigeria juga mencerminkan bagaimana tekanan di negara berkembang dapat menyebar dengan cepat, terutama ketika investor asing memilih keluar dari pasar.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati data inflasi Nigeria yang akan dirilis pekan depan serta kebijakan suku bunga bank sentral. Jika tekanan jual berlanjut, indeks NGX berpotensi menguji level support 230.000. Pertanyaannya, akankah investor kembali masuk setelah koreksi ini, atau justru terjadi aksi jual lanjutan?



