Pixar Tolak Keras Gagasan Live-Action Toy Story, Tom Hanks Buka Peluang AI
Baca dalam 60 detik
- Produser dan sutradara Toy Story 5 menolak wacana film live-action, menyebutnya seperti 'topi di atas topi'.
- Tom Hanks menilai AI bisa mereplikasi suaranya untuk sekuel mendatang, asal cerita benar-benar berbobot.
- Andrew Stanton mengindikasikan Toy Story 5 mungkin menjadi film Pixar terakhirnya karena faktor usia.

Pixar menepis habis-habisan kemungkinan Disney menggarap versi live-action dari waralaba Toy Story. Produser Lindsey Collins dan sutradara Andrew Stanton secara tegas menyatakan 'tidak' saat ditanya oleh BAFTA mengenai proyek tersebut, menandai sikap studio animasi itu yang enggan mengikuti jejak remake realis Disney seperti The Lion King (2019) atau Moana (2026).
Dalam wawancara yang dikutip pekan ini, Collins bereaksi spontan dengan nada setengah bercanda, "Ya Tuhan, tidak. Kumohon jangan keras-keras! Anda tahu Disney bisa saja..." sambil memasang ekspresi konyol. Stanton menambahkan, "Itu seperti topi di atas topi. Saya harap tidak. Penolakan keras." Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Pixar ingin menjaga identitas animasi Toy Story tetap utuh, berbeda dengan strategi Disney yang kerap mengonversi properti animasi ke format hibrida.
Namun, di sisi lain, pengisi suara Woody, Tom Hanks, justru membuka peluang penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mereplikasi suaranya jika Toy Story 6 diproduksi. Aktor berusia 69 tahun itu mengatakan kepada Entertainment Weekly bahwa setiap rekaman suaranya dari film-film sebelumnya tersimpan di media digital, sehingga Disney bisa merangkai versi dirinya. Meski demikian, Hanks menekankan bahwa sekuel baru harus benar-benar bermakna. "Kecuali bagus, baru, dan segar, tidak ada alasan untuk membuatnya sama sekali," ujar peraih dua Oscar itu.
Komentar Hanks muncul di tengah spekulasi bahwa Disney dan Pixar belum secara resmi mengumumkan Toy Story 6, meski kesuksesan box office film kelima—yang meraup USD 312 juta secara global di akhir pekan pembuka—menjadi indikasi kuat waralaba ini akan berlanjut. Stanton sendiri pada April lalu mengisyaratkan masih ada materi untuk dua film lagi, termasuk kemungkinan memperkenalkan pemilik baru bagi karakter-karakter mainan tersebut.
Bagi penggemar di Indonesia, penolakan terhadap live-action Toy Story bisa menjadi angin segar. Banyak penonton lokal yang mengapresiasi keaslian animasi Pixar dan khawatir versi realis justru menghilangkan keajaiban visual yang ikonik. Di sisi lain, wacana AI yang dilontarkan Hanks membuka diskusi etis tentang penggunaan teknologi untuk 'menghidupkan kembali' aktor tanpa persetujuan penuh—isu yang juga relevan di industri hiburan Tanah Air.
Stanton, yang dikenal lewat Finding Nemo dan WALL-E, mengaku Toy Story 5 kemungkinan besar menjadi film terakhirnya di Pixar. Sutradara berusia 60 tahun itu merasa perlu beralih dari 'waktu batu'—istilahnya untuk ritme produksi animasi yang lambat—dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Namun, ia tetap akan memberikan masukan kreatif hingga "di kursi goyang suatu hari nanti". Pertanyaannya, mampukah Pixar mempertahankan kualitas tanpa tangan dingin Stanton, atau justru era baru akan dimulai dengan generasi kreator berikutnya?



