Vietnam Dorong Kerja Sama Sains dan Inovasi ASEAN di Tengah Restrukturisasi Besar
Baca dalam 60 detik
- Vietnam mengusulkan kerangka bersama untuk AI, big data, dan keamanan siber dalam pertemuan menteri ASEAN di Laos.
- Komite Sains ASEAN direstrukturisasi dari sembilan menjadi lima sub-komite untuk mempercepat prioritas regional.
- Dana Inovasi ASEAN diluncurkan dengan fokus pada tantangan besar yang dipecahkan oleh kecerdasan buatan.

Pertemuan tingkat menteri ASEAN bidang sains dan teknologi di Vientiane, Laos, pada Jumat (25/6) lalu menghasilkan sejumlah keputusan strategis, termasuk restrukturisasi besar komite sains dan peluncuran dana inovasi baru. Vietnam tampil sebagai salah satu pengusung utama agenda digitalisasi dan pengembangan sumber daya manusia di kawasan.
Deputi Menteri Sains dan Teknologi Vietnam, Bui Hoang Phuong, yang memimpin delegasi negaranya, menekankan pentingnya transformasi digital dan inovasi sebagai motor pembangunan berkelanjutan ASEAN. Ia mendorong pembentukan kerangka regulasi bersama untuk teknologi strategis seperti kecerdasan buatan (AI), big data, teknologi antariksa, dan keamanan siber. Menurut Phuong, langkah ini diperlukan untuk menciptakan lingkungan bisnis digital yang aman sekaligus meningkatkan daya saing ASEAN di panggung global.
Selain itu, Vietnam juga mengusulkan penguatan jaringan universitas dan lembaga riset terkemuka di ASEAN guna menciptakan tenaga kerja berketerampilan tinggi. Usulan ini bertujuan menjembatani kesenjangan teknologi antarnegara anggota, yang selama ini menjadi hambatan dalam adopsi inovasi secara merata.
Salah satu hasil konkret pertemuan tersebut adalah persetujuan restrukturisasi Komite ASEAN untuk Sains, Teknologi, dan Inovasi (COSTI). Jumlah sub-komite dikurangi dari sembilan menjadi lima badan khusus. Langkah ini dinilai akan memperbaiki tata kelola, menyelaraskan dengan Rencana Aksi ASEAN (APASTI), dan mempercepat pencapaian prioritas regional. Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn, yang turut hadir, menyambut baik perubahan ini sebagai upaya meningkatkan efektivitas kerja sama.
Pertemuan juga menyambut kemajuan dua Prioritas Ekonomi 2026: deklarasi ASEAN tentang kemajuan kerja sama sains, teknologi, dan inovasi antariksa, serta program regional untuk aplikasi AI di sektor kesehatan. Kedua inisiatif ini diharapkan menjadi landasan bagi proyek-proyek konkret yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat ASEAN.
Dalam sesi peluncuran, para delegasi meresmikan panggilan proposal untuk Dana Sains, Teknologi, dan Inovasi ASEAN (ASTIF) dengan tema "ASEAN Grand Challenge: AI-Enabled Competitive and Resilient Region". Dana ini bertujuan memanfaatkan AI untuk mengatasi tantangan regional, mendorong inovasi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bagi Indonesia, inisiatif ini membuka peluang bagi peneliti dan startup lokal untuk mengakses pendanaan regional, terutama dalam pengembangan solusi AI untuk sektor pertanian, kesehatan, dan logistik.
Bagi Indonesia, hasil pertemuan ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara dengan ekosistem digital yang berkembang pesat, Indonesia dapat memanfaatkan kerangka bersama ASEAN untuk mempercepat adopsi AI dan big data di sektor publik dan swasta. Restrukturisasi COSTI juga diharapkan mempermudah koordinasi proyek riset antarnegara, termasuk potensi kolaborasi dengan universitas-universitas Vietnam dan Thailand yang telah maju di bidang teknologi antariksa.
Pertemuan ditutup dengan pengadopsian pernyataan bersama yang menegaskan kembali komitmen ASEAN untuk memperkuat kerja sama sains, teknologi, dan inovasi, termasuk dengan mitra wicara. Malaysia dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan menteri sains ASEAN berikutnya pada Juni 2027. Pertanyaannya, sejauh mana komitmen ini akan diterjemahkan ke dalam kebijakan nasional yang konkret, terutama di tengah persaingan global yang semakin ketat di bidang teknologi?



