AI Anthropic Bobol Sistem Rahasia AS dalam Hitungan Jam, Memicu Ketegangan dengan Pemerintah
Baca dalam 60 detik
- Model AI Mythos buatan Anthropic berhasil menemukan celah di sistem komputer pemerintah AS yang sangat sensitif dalam waktu singkat, menurut pejabat anonim.
- Uji coba yang dilakukan bersama badan intelijen AS ini memicu kekhawatiran tentang keamanan nasional dan mendorong pembatasan akses ke model AI canggih.
- Pembatasan yang diterapkan pemerintah AS justru dikritik oleh pakar keamanan siber karena dinilai dapat melemahkan pertahanan siber AS di tengah persaingan global.

Seorang pejabat AS mengungkapkan bahwa model kecerdasan buatan (AI) terbaru dari perusahaan rintisan Anthropic, Mythos, mampu mengidentifikasi celah keamanan pada sistem komputer pemerintah AS yang sangat rahasia hanya dalam hitungan jam. Temuan ini, yang diuji dalam kolaborasi antara Anthropic dan badan intelijen AS, memicu perdebatan sengit tentang potensi risiko dan manfaat AI canggih di sektor pertahanan.
Pejabat yang enggan disebut namanya tersebut mengatakan kepada Associated Press bahwa pengujian dilakukan melalui inisiatif Project Glasswing milik Anthropic. Proyek ini bertujuan mengamankan perangkat lunak kritis dunia dari dampak parah yang mungkin ditimbulkan oleh model Mythos terhadap keselamatan publik, keamanan nasional, dan ekonomi. Meskipun Mythos berhasil menemukan kerentanan, pejabat itu menekankan bahwa model tersebut belum tentu mampu mengeksploitasinya dalam waktu yang sama.
Senator Demokrat Mark Warner dari Virginia sempat menyinggung hasil uji coba ini dalam sidang Komite Perbankan, Perumahan, dan Urusan Perkotaan Senat pada 11 Juni lalu. Warner menyatakan, "Alat ini membobol hampir semua sistem rahasia kami, bukan dalam hitungan minggu, melainkan jam." Ia mengaitkan informasi tersebut dengan Kepala Badan Keamanan Nasional (NSA) dan Komando Siber AS, Jenderal Joshua Rudd. NSA menolak berkomentar, demikian pula dengan juru bicara Anthropic.
Di balik kerja sama ini, ketegangan antara Anthropic dan pemerintahan Trump justru meningkat. Anthropic sebelumnya menyuarakan kekhawatiran tentang penggunaan AI-nya oleh militer AS, sementara pemerintah mengeluarkan arahan yang membatasi penggunaan model terbaru mereka, Fable 5 dan Mythos 5, oleh warga asing. Anthropic pun menonaktifkan model-model tersebut untuk semua pelanggan demi mematuhi arahan itu, meskipun mereka menilai langkah pemerintah tidak beralasan.
Kebijakan pembatasan ini menuai kritik dari kalangan eksekutif keamanan siber. Lebih dari 100 pakar dan pemimpin perusahaan seperti Adobe dan Nvidia menandatangani surat yang meminta pemerintah mencabut arahan tersebut. Mereka berargumen bahwa langkah itu justru lebih menguntungkan musuh AS. Dalam suratnya, mereka menyebut model Mythos "cukup baik" dalam menemukan celah dan mempersenjatai eksploitasi, tetapi "tidak secara unik unggul" dalam tugas tersebut. Banyak penandatangan yang secara rutin menggunakan model dasar dan sumber terbuka lain untuk audit keamanan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan pentingnya pengaturan AI yang seimbang. Di tengah adopsi AI yang pesat di sektor pemerintahan dan bisnis Tanah Air, insiden ini menyoroti perlunya kebijakan yang tidak hanya mendorong inovasi tetapi juga menjaga keamanan nasional. Pertanyaan yang muncul: apakah Indonesia perlu menyusun kerangka uji keamanan serupa untuk model AI yang digunakan di sektor sensitif? Ataukah pembatasan berlebihan justru akan menghambat kemajuan teknologi di dalam negeri?



