Rupiah Terus Tertekan Mendekati Rp18.000, Sinyal The Fed Hawkish Jadi Biang Kerok
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,5% ke Rp17.925 per dolar AS pada Rabu (24/6), melanjutkan tren negatif selama empat hari berturut-turut.
- Tekanan berasal dari penguatan indeks dolar AS (DXY) ke 101,547, didorong ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang meningkat tajam pada rapat Juli dan September.
- Bank Indonesia merespons dengan menurunkan batas pembelian valas tunai tanpa dokumen menjadi US$10.000 per bulan, serta mengajak masyarakat mengutamakan rupiah untuk transaksi domestik.

Rupiah kembali terpuruk ke level terendah dalam lebih dari setahun, ditutup melemah 0,5% ke Rp17.925 per dolar AS pada perdagangan Rabu (24/6/2026), mendekati ambang psikologis Rp18.000 yang dipandang sebagai titik kritis bagi stabilitas nilai tukar.
Tekanan terhadap mata uang Garuda sudah berlangsung empat hari beruntun, dengan rentang pergerakan harian antara Rp17.900 hingga Rp17.955. Faktor utama yang menjadi biang kerok adalah penguatan dolar AS di pasar global, yang tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang menguat 0,14% ke level 101,547 pada pukul 15.00 WIB. Level ini merupakan yang tertinggi dalam lebih dari setahun, didorong oleh perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Federal Reserve.
Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pekan lalu, yang merupakan rapat pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh, ditafsirkan pasar sebagai sinyal bahwa bank sentral AS masih membuka peluang kenaikan suku bunga tahun ini. Akibatnya, probabilitas kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada rapat Juli melonjak dari 8,5% menjadi 36,3% dalam sepekan, sementara untuk rapat September naik dari 29,1% menjadi 69,1% berdasarkan data CME FedWatch.
Di tengah tekanan eksternal yang kian deras, Bank Indonesia (BI) bergerak cepat dengan mengeluarkan kebijakan baru untuk menahan laju pelemahan rupiah. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menurunkan ambang batas pembelian valuta asing tunai tanpa dokumen pendukung (underlying) dari sebelumnya US$25.000 menjadi US$10.000 per pelaku per bulan. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan memperbaiki tata kelola permintaan valas, bukan untuk melarang penggunaan dolar AS. "Kami tidak bermaksud membatasi penggunaan dolar AS, tapi harus ada underlying-nya, kalau tidak ada, itu menjadi spekulatif," ujarnya dalam acara Economic Update CNBC Indonesia 2026.
Bagi pelaku pasar dan investor di Indonesia, pelemahan rupiah yang terus berlanjut membawa implikasi langsung terhadap biaya impor, utang luar negeri korporasi, dan daya beli masyarakat. Mendekati level Rp18.000, intervensi BI di pasar valas dan pengetatan likuiditas dolar menjadi semakin krusial. Destry juga mengajak masyarakat untuk mengutamakan penggunaan rupiah dalam transaksi domestik sebagai bentuk dukungan kolektif menjaga stabilitas mata uang. "Rupiah itu mata uang kita bersama, menjaga stabilitasnya tidak bisa hanya BI sendiri," imbuhnya.
Ke depan, arah pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada data ekonomi AS, terutama inflasi dan tenaga kerja, yang dapat mempengaruhi sikap The Fed. Jika ekspektasi kenaikan suku bunga terus menguat, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut, menguji ketahanan kebijakan moneter domestik. Pertanyaannya, sejauh mana BI mampu menahan laju pelemahan tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi?



