Reuni Alonso-Garcia di Johor: Ujian Terbesar JDT Sebelum Musim Baru
Baca dalam 60 detik
- Mantan rekan setim Liverpool, Xabi Alonso dan Luis Garcia, akan bertemu lagi di laga persahabatan Chelsea melawan Johor Darul Ta'zim, Minggu ini.
- JDT membawa rekor tak terkalahkan 108 laga domestik, dan pertandingan ini menjadi ujian pamungkas sebelum musim Malaysia dimulai.
- Kesuksesan JDT menembus perempat final Liga Champions Asia menjadi bukti ambisi mereka, meski kesenjangan finansial dengan klub-klub elite Asia masih sangat lebar.

Reuni dua mantan bintang Liverpool, Xabi Alonso dan Luis Garcia, akan tersaji di Stadion Sultan Ibrahim, Johor, Minggu (28/7). Alonso yang kini menukangi Chelsea akan berhadapan dengan tim yang dipimpin Garcia sebagai CEO, Johor Darul Ta'zim (JDT). Laga ini bukan sekadar uji coba pramusim, melainkan panggung pembuktian bagi sepak bola Malaysia di hadapan salah satu raksasa Premier League.
Pertemuan ini terasa istimewa karena keduanya sama-sama bergabung dengan Liverpool pada hari yang sama di tahun 2004. Kala itu, Garcia mengaku sempat terkecoh dengan kemampuan bahasa Inggris Alonso yang ternyata fasih, padahal sebelumnya Alonso mengaku kurang lancar. Keduanya kemudian menjadi bagian dari skuad The Reds yang merebut gelar Liga Champions 2005 secara dramatis melawan AC Milan.
Bagi JDT, laga ini merupakan ujian terbesar musim ini. Garcia sendiri mengakui bahwa Chelsea adalah lawan terberat yang akan mereka hadapi. "Kami tidak sabar untuk menguji diri melawan klub top, pemain top, dan senang bisa bertemu Alonso. Saya jamin kami akan bertarung," ujarnya. Meski mendoakan yang terbaik untuk Alonso di Chelsea, Garcia bercanda berharap mantan rekan setimnya itu finis di bawah Liverpool musim depan.
JDT datang dengan modal rekor impresif: tak terkalahkan dalam 108 laga domestik, menyamai rekor dunia. Mereka juga baru saja mencapai perempat final Liga Champions Asia, sebuah pencapaian bersejarah bagi klub Malaysia. Namun, kesenjangan finansial dengan klub-klub elite Asia masih menjadi pekerjaan rumah. "Tim-tim itu punya anggaran di atas $150 juta, sementara kami hanya $15 juta. Perbedaannya sangat jauh," kata Garcia.
Di balik prestasi tersebut, ada peran aktif Putra Mahkota Johor, Tunku Ismail, yang membangun stadion berkapasitas 40.000 penonton serta fasilitas latihan bertaraf internasional yang terinspirasi dari markas latihan Real Madrid. Garcia, yang juga memegang lisensi UEFA Pro, menegaskan bahwa JDT tidak hanya berfokus pada tim utama, tetapi juga pengembangan akademi dengan mendatangkan pelatih-pelatih asal Spanyol untuk meningkatkan kualitas sepak bola Malaysia.
Bagi sepak bola Indonesia, kisah JDT bisa menjadi inspirasi. Klub-klub Indonesia kerap kesulitan bersaing di level Asia karena masalah finansial dan manajemen. Keberanian JDT membangun infrastruktur dan akademi dengan standar internasional patut dicontoh. Pertanyaan besarnya, mampukah klub-klub Indonesia keluar dari zona nyaman dan berani bermimpi seperti JDT?



