Gasperini Murka Usai Roma Dipermalukan Brighton: 'Kami Belum Layak Disebut Lebih Kuat'
Baca dalam 60 detik
- Roma menelan kekalahan telak 0-3 dari Brighton dalam laga uji coba, menambah rentetan hasil buruk pramusim.
- Pelatih Gian Piero Gasperini mengkritik kinerja tim dan mengisyaratkan ketidakpuasan terhadap lambannya bursa transfer.
- Dengan kebobolan 11 gol dalam empat laga, pertahanan Roma menjadi sorotan utama menjelang musim baru.

Gian Piero Gasperini tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya setelah AS Roma dihancurkan Brighton & Hove Albion dengan skor telak 0-3 dalam laga uji coba pramusim. Pelatih asal Italia itu secara blak-blakan menyebut penampilan anak asuhnya sebagai 'mengerikan' dan mengakui bahwa ia belum bisa memastikan apakah skuadnya saat ini lebih kuat dibandingkan musim lalu, terutama di tengah hiruk-pikuk bursa transfer yang belum juga memberikan kepastian.
Kekalahan di Brighton menjadi pukulan ketiga bagi Roma dalam empat pertandingan pramusim. Sebelumnya, mereka ditahan imbang 3-3 oleh Cannes setelah sempat unggul tiga gol, kemudian dipermalukan Cardiff City dengan skor 4-1. Satu-satunya kemenangan diraih saat menghadapi Newport County, yang notabene bukan lawan sepadan. Rangkaian hasil buruk ini memunculkan kekhawatiran serius mengenai kesiapan tim menjelang kompetisi resmi, terutama setelah Roma berhasil lolos ke Liga Champions musim ini.
Gasperini, yang dikenal sebagai pelatih dengan standar tinggi, tidak menampik bahwa masalah utama timnya bukan sekadar kebugaran fisik. Ia menilai para pemain kehilangan konsentrasi dan gagal bekerja sama sebagai satu kesatuan. "Kami bekerja dalam atmosfer yang cukup baik pekan ini, tetapi kami bermain sangat buruk. Saya tidak berpikir ini soal ketajaman, karena kami tidak kompak sebagai tim," ujarnya kepada awak media di Brighton. Ia juga menyebut sejumlah pemain yang baru kembali dari Piala Dunia masih kelelahan dan butuh waktu untuk pulih sepenuhnya.
Yang lebih memprihatinkan, lini pertahanan Roma tampak sangat rapuh. Dalam empat laga pramusim, gawang mereka sudah kebobolan 11 gol. Angka ini menjadi alarm bagi Gasperini yang mengakui timnya masih jauh dari kata siap. "Saya punya perasaan kami belum sepenuhnya 'on'. Setidaknya ini periode di mana kami bisa kalah telak," katanya. Namun, ia juga menegaskan bahwa situasi seperti ini justru bisa menjadi cambuk untuk membangunkan kembali mentalitas tim.
Di balik kekalahan demi kekalahan, ada kegelisahan yang lebih dalam yang dirasakan Gasperini: keterlambatan bursa transfer. Ia tidak ragu meluapkan kekesalannya kepada para direktur klub, termasuk kepala transfer baru, Tony D'Amico. Menurutnya, Roma kesulitan bergerak di pasar karena skuad yang terlalu sedikit, sementara klub lain justru kebanjiran pemain. "Jendela transfer selalu dimulai 1 Juli, tetapi semuanya baru diputuskan di 15 hari terakhir Agustus. Itu tidak benar, karena saat itu tim-tim lain sudah bekerja dan bersiap," keluhnya.
Meski demikian, ada sedikit kabar baik. Lorenzo Pellegrini, kapten tim, akhirnya menandatangani kontrak baru setelah kontrak lamanya berakhir pada 30 Juni. Namun, Gasperini merespons dingin kabar tersebut. "Ya, tapi kapan dia bisa mulai bermain? Setidaknya sebulan lagi, jadi tidak ada gunanya membicarakan itu sekarang," sindirnya. Sikap ini menunjukkan betapa frustrasinya pelatih berusia 66 tahun itu terhadap situasi yang ada.
Ketika ditanya apakah Roma musim ini lebih kuat dari musim lalu, Gasperini menjawab dengan nada ragu. "Saya tidak tahu. Jika boleh jujur, kami mengganti Zeki Celik dengan Nahuel Molina yang baru akan bergabung Selasa, lalu mengganti Artem Dovbyk dengan Santiago Castro yang memberi sensasi baik. Kami juga mendatangkan pemain muda untuk melengkapi pertahanan. Tetapi jika hanya melihat angka, saya merasa kami masih butuh tambahan," paparnya. Ia menambahkan bahwa D'Amico sedang bernegosiasi untuk pemain-pemain muda berbakat, dan itu adalah jalur yang sedang ditempuh.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi ini menarik untuk dicermati. Roma adalah salah satu klub dengan basis penggemar besar di tanah air, dan performa mereka kerap menjadi sorotan. Kekalahan beruntun ini tentu mengecewakan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pramusim adalah ajang uji coba. Pertanyaan besarnya adalah apakah manajemen Roma mampu bergerak cepat di bursa transfer untuk memenuhi kebutuhan tim sebelum musim dimulai. Jika tidak, bukan tidak mungkin musim ini akan menjadi musim yang panjang dan penuh perjuangan bagi Giallorossi.
Dengan jadwal uji coba terakhir melawan Borussia Dortmund pada 15 Agustus, Roma masih punya sedikit waktu untuk membenahi diri. Namun, jika kekalahan demi kekalahan terus berlanjut, tekanan terhadap Gasperini dan para pemain akan semakin besar. Apakah Roma akan bangkit atau justru tenggelam dalam krisis pramusim? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: para penggemar di Indonesia dan seluruh dunia akan menanti dengan napas tertahan.



