Vollering Rebut Kaus Kuning Tour de France Femmes Usai Taklukkan Etape Gunung
Baca dalam 60 detik
- Demi Vollering memenangi etape kedelapan dan merebut kaus kuning, menggeser Kasia Niewiadoma jelang etape pamungkas.
- Kemenangan di rute SisteronโNice menandai kali kelima Vollering mengenakan kaus kuning dan yang kelima bagi pemimpin klasemen berbeda di edisi 2026.
- Elisa Longo Borghini dan Kasia Niewiadoma menguntit di belakang, membuat balapan terakhir di Nice menjadi penentu gelar juara.

Pebalap Belanda, Demi Vollering, tampil gemilang dengan memenangi etape kedelapan Tour de France Femmes yang menuntaskan rute pegunungan dari Sisteron menuju Nice, Sabtu (8/8). Kemenangan ini sekaligus mengantarnya mengenakan kaus kuning sebagai pemimpin klasemen umum, hanya berselang sehari sebelum balapan pamungkas digelar.
Vollering, yang membela tim FDJ United-Suez, melancarkan serangan mendadak di penghujung etape sepanjang 171,9 kilometer. Manuver itu berhasil mengecoh para pesaingnya dan ia mampu mempertahankan keunggulan hingga garis finis. Ini bukan sekadar kemenangan etape; hasil ini menempatkannya sebagai pemimpin kelima yang berbeda di edisi 2026, sekaligus menjadi kali kelima ia mengenakan kaus kuning sepanjang kariernya di ajang ini.
Di belakangnya, pebalap Italia Elisa Longo Borghini dari UAE Team ADQ finis kedua, sementara mantan pemimpin klasemen asal Polandia, Kasia Niewiadoma-Phinney dari Canyon/SRAM, harus puas di posisi ketiga. Dengan hasil tersebut, Niewiadoma kehilangan kaus kuning yang sebelumnya ia pegang, dan kini harus berjuang keras di etape terakhir yang akan berlangsung di Nice, Minggu (9/8).
Persaingan menuju podium utama semakin memanas. Vollering unggul tipis atas Longo Borghini dan Niewiadoma, namun etape terakhir yang menantang bisa mengubah segalanya. Para pengamat menilai rute final yang berliku dan menanjak akan menjadi ujian sesungguhnya bagi ketahanan dan strategi para pebalap.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, momen ini menegaskan bahwa Tour de France Femmes semakin kompetitif dan layak diikuti. Meski belum ada pebalap Asia Tenggara yang tampil menonjol, perkembangan ini bisa menjadi inspirasi bagi para atlet muda Indonesia untuk menembus level tertinggi balap sepeda dunia. Federasi Olahraga Sepeda Indonesia (ISSI) pun diharapkan terus mencari bibit-bibit unggul yang mampu bersaing di kancah internasional.
Dengan hanya satu etape tersisa, pertanyaan besarnya adalah: akankah Vollering mampu mempertahankan keunggulannya, atau justru Niewiadoma atau Longo Borghini yang akan merebut gelar? Etape terakhir di Nice diprediksi akan menjadi penentu yang dramatis, mengingat selisih waktu yang tipis di antara para pesaing. Para penggemar tentu berharap persaingan ini berlangsung sengit hingga garis finis.



