Demi Vollering Rebut Kaus Kuning Tour de France Femmes Usai Kemenangan Dramatis di Etap 8
Baca dalam 60 detik
- Pembalap Belanda Demi Vollering memenangi etap pegunungan yang berat dan merebut kaus kuning dari Kasia Niewiadoma-Phinney dengan keunggulan delapan detik menjelang etap terakhir.
- Kemenangan ini menjadi pembalikan cepat setelah Vollering kehilangan waktu signifikan di Mont Ventoux sehari sebelumnya, menunjukkan ketangguhan mental dan strategi tim yang solid.
- Kontroversi taktik menghiasi balapan setelah Niewiadoma-Phinney menuduh tim FDJ United-Suez menghalanginya secara tidak sportif, memanaskan persaingan menjelang final di Nice.

Pembalap Belanda, Demi Vollering, tampil memukau dengan memenangi etap kedelapan Tour de France Femmes yang menuntut kekuatan ekstra, sekaligus merebut kaus kuning dari Kasia Niewiadoma-Phinney. Dengan hanya satu etap tersisa, Vollering kini memimpin klasemen umum dengan selisih delapan detik, mengubah peta persaingan secara dramatis.
Etap sepanjang 171,9 kilometer dari Sisteron menuju Nice ini berlangsung di medan pegunungan yang keras. Sebelum start, kabar mengejutkan datang: juara bertahan Pauline Ferrand-Prevot dari tim Visma-Lease a Bike mundur karena sakit. Absennya salah satu kandidat kuat ini langsung mengubah dinamika balapan, membuka peluang bagi pembalap lain untuk tampil lebih agresif.
Vollering, yang membela tim FDJ United-Suez, melancarkan akselerasi menentukan di tanjakan curam Chemin de l'Arieta yang berjarak enam kilometer dari garis finis. Ia berhasil meninggalkan Niewiadoma-Phinney dan Elisa Longo Borghini dari Italia, kemudian memperlebar jarak saat menuruni jalan menuju Nice. Kemenangan ini menjadi kebanggaan tersendiri karena sehari sebelumnya ia kehilangan satu menit 16 detik dari Niewiadoma-Phinney di Mont Ventoux.
"Dalam balapan etap, kita hidup hari demi hari. Jadi kamu bisa kecewa malam ini, tapi besok pagi kamu harus memasang topeng baru dan melaju lagi. Kamu mencoba lagi, membuat rencana bersama tim," ujar Vollering. Pernyataannya mencerminkan mentalitas pebalap profesional yang tidak larut dalam kegagalan, melainkan menjadikannya bahan bakar untuk bangkit.
Kemenangan ini juga menandai kali kelima Vollering mengenakan kaus kuning, sekaligus menjadikannya pembalap kelima yang memimpin edisi 2026. Sementara itu, Longo Borghini finis kedua setelah mengungguli Niewiadoma-Phinley dalam sprint akhir, yang harus puas di posisi ketiga dan kehilangan pimpinan klasemen.
Di balik euforia kemenangan, terselip kontroversi. Niewiadoma-Phinley meluapkan kekesalannya terhadap taktik tim FDJ United-Suez. "Saya sangat kesal di dasar tanjakan karena Celia Gery sengaja memblokir saya ke arah pembatas sehingga saya harus berhenti mengayuh," katanya. Ia menilai tindakan tersebut tidak sportif dan kekanak-kanakan. "Saya kehilangan banyak rasa hormat kepada mereka," tegasnya. Tuduhan ini menambah bumbu persaingan yang sudah panas.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, persaingan ini menjadi tontonan menarik karena menunjukkan bagaimana strategi tim dan mentalitas pembalap menentukan hasil. Meski belum ada pembalap Indonesia yang tampil di level ini, ajang seperti Tour de France Femmes bisa menjadi inspirasi bagi perkembangan olahraga sepeda tanah air yang mulai bangkit.
Dengan keunggulan tipis delapan detik, segalanya masih mungkin terjadi di etap terakhir yang mengelilingi Nice. Vollering sendiri sadar bahwa tugasnya belum selesai. "Besok akan sangat sulit, tentu saja. Seperti yang saya katakan sejak awal Tour: segalanya bisa terjadi di hari terakhir, tapi setidaknya saya start dengan kaus kuning besok. Dan itu sudah menjadi mimpi yang menjadi kenyataan," ujarnya. Pertanyaannya, akankah ia mampu mempertahankan keunggulan ini atau justru Niewiadoma-Phinney yang melakukan comeback dramatis? Balapan pamungkas akan menjawabnya.



