Petenis Inggris Dan Evans Tutup Karier Tunggal dengan Kekalahan di Kualifikasi Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Dan Evans (36) mengakhiri perjalanan tunggalnya setelah kalah dari Tristan Schoolkate di babak kedua kualifikasi Wimbledon.
- Meski gagal di tunggal, Evans masih akan berlaga di ganda putra Wimbledon berkat wildcard bersama Henry Searle.
- Evans dikenang sebagai juara dua turnamen ATP dan bagian dari tim Davis Cup Inggris yang memutus puasa gelar 79 tahun pada 2015.

Petenis Inggris Dan Evans harus mengakhiri karier tunggal profesionalnya lebih awal dari yang diharapkan setelah takluk dari Tristan Schoolkate pada babak kedua kualifikasi Wimbledon, Rabu (26/6). Kekalahan 7-5, 6-0 itu memupus harapannya untuk tampil di turnamen Grand Slam favoritnya untuk terakhir kalinya sebagai pemain tunggal.
Evans, yang genap berusia 36 tahun pada Mei lalu, telah mengumumkan pensiun setelah Kejuaraan Wimbledon tahun ini. Namun, ia gagal mendapatkan wildcard untuk sektor tunggal, sehingga harus melewati tiga pertandingan kualifikasi di Roehampton untuk bisa bermain di lapangan utama SW19. Sayang, langkahnya terhenti di rute kedua.
Pertandingan yang disaksikan penonton tuan rumah yang memadati tribun itu sempat berjalan sengit. Pada set pertama, Evans semaput menunjukkan permainan atraktif, termasuk sebuah forehand winner spektakuler setelah ia menjatuhkan diri untuk mengembalikan drop shot Schoolkate. Aksi tersebut mendapat tepuk tangan meriah dan Evans pun merayakannya dengan berpura-pura berenang di lapangan.
Namun, momentum berubah setelah Schoolkate memenangi set pertama. Memasuki set kedua, sistem panggilan garis elektronik mengalami gangguan sehingga pertandingan tertunda lebih dari satu jam. Setelah jeda, Evans kehilangan ritme dan tak mampu meraih satu game pun. Schoolkate, yang kini menempati peringkat 147 dunia, menuntaskan set kedua hanya dalam 22 menit.
Meski karier tunggalnya usai, Evans masih akan tampil di Wimbledon tahun ini. Ia mendapatkan wildcard untuk nomor ganda putra bersama rekan senegaranya, Henry Searle. Ini menjadi kesempatan terakhirnya untuk tampil di hadapan publik sendiri sebelum benar-benar gantung raket.
Schoolkate, yang mengalahkan idolanya sendiri, memberikan penghormatan tinggi kepada Evans. "Dia pemain fenomenal. Saya berharap yang terbaik untuknya setelah pensiun. Banyak anak muda bisa belajar dari cara dia bermain, variasi pukulannya, dan semangat juangnya," ujar petenis Australia itu.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kisah Evans mengingatkan pada perjuangan petenis Asia yang kerap harus melewati kualifikasi untuk bisa tampil di Grand Slam. Meski tidak setenar petenis papan atas, dedikasi Evans membuktikan bahwa karier tenis tidak selalu diukur dari jumlah gelar, melainkan juga dari kontribusi dan inspirasi yang ditinggalkan.
Dengan mundurnya Evans dari tunggal, Wimbledon tahun ini akan menjadi panggung perpisahan bagi beberapa legenda. Pertanyaan besarnya, mampukah Evans menutup kariernya dengan manis di nomor ganda, atau justru akan menjadi akhir yang sunyi di tengah sorotan sorak sorai penonton?



