Sabalenka Bela Aksi Protes Hadiah Wimbledon: Bukan untuk Diri Sendiri
Baca dalam 60 detik
- Aryna Sabalenka mempertahankan aksi mogok media di Wimbledon, menuntut peningkatan hadiah dan kesejahteraan pemain.
- Wimbledon menaikkan total hadiah 20% menjadi £64,2 juta, namun hanya 15% dari pendapatan turnamen, di bawah tuntutan pemain 16%.
- Sabalenka menegaskan protes dilakukan demi pemain peringkat bawah yang kesulitan membiayai pelatih dan kebutuhan lain.

Petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka membela aksi protes yang dilakukan para pemain top di Wimbledon, meskipun turnamen Grand Slam rumput tersebut telah menaikkan total hadiah secara rekor sebesar 20 persen tahun ini. Sabalenka menegaskan bahwa tuntutan mereka bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi kesejahteraan pemain lain yang berjuang di level bawah.
Sabalenka, yang tergabung dalam kelompok yang diwakili mantan CEO WTA Larry Scott, mendesak alokasi hadiah yang lebih besar dan peningkatan kesejahteraan pemain. Total hadiah Wimbledon tahun ini mencapai £64,2 juta, atau sekitar 15 persen dari pendapatan turnamen. Angka ini masih di bawah tuntutan pemain yang menginginkan 16 persen, setara £70 juta.
Seperti yang terjadi di Prancis Terbuka, Sabalenka dan beberapa pemain lain membatasi kewajiban media mereka sebagai bentuk protes. Dalam konferensi pers yang diperpendek, Sabalenka menyatakan bahwa kenaikan hadiah tahun ini adalah awal yang baik, namun jika dibandingkan dengan 2016, persentasenya relatif sama karena sempat menurun. “Saya sangat berharap kami akhirnya bisa duduk bersama dan mencapai kesepakatan yang memuaskan semua pihak. Semoga kami tidak perlu melakukan ini lagi,” ujarnya.
Kenaikan hadiah Wimbledon memang signifikan: juara tunggal putri akan menerima £3,6 juta, naik dari £3 juta tahun lalu. Pemain yang kalah di babak pertama mendapat £80.000, naik dari £66.000. Namun, Sabalenka menekankan bahwa protes ini bukan tentang uang bagi pemain top, melainkan untuk pemain peringkat bawah yang kesulitan membiayai pelatih dan biaya perjalanan. “Kami melakukannya untuk tur, bukan untuk diri kami sendiri,” tegasnya.
All England Club, penyelenggara Wimbledon, menyatakan “terkejut dan kecewa” dengan aksi protes tersebut. Mereka mengklaim telah menginvestasikan ratusan juta pound untuk meningkatkan fasilitas pemain sebagai bagian dari transformasi tiga tahun. Namun, tawaran mereka untuk membentuk dewan pemain guna menyelesaikan masalah ditolak oleh para pemain.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, aksi protes ini menyoroti ketimpangan pendapatan dalam olahraga profesional. Meskipun turnamen Grand Slam menghasilkan miliaran dolar, pemain di luar 100 besar sering kesulitan menutupi biaya perjalanan, pelatih, dan akomodasi. Di Indonesia, di mana tenis masih tumbuh, isu ini relevan karena dapat mempengaruhi pengembangan bibit muda yang membutuhkan dukungan finansial.
Sabalenka sendiri datang ke Wimbledon dengan kepercayaan diri yang terguncang setelah kekalahan di perempat final Prancis Terbuka. Ia kehilangan 10 game terakhir melawan Diana Shnaider. Namun, dengan bantuan psikolog, ia merasa telah pulih. “Secara keseluruhan, saya merasa semuanya mulai kembali pada tempatnya,” katanya.
Pertanyaan besarnya: apakah aksi protes ini akan mendorong perubahan struktural dalam pembagian pendapatan Grand Slam, atau hanya akan menjadi gesekan sementara antara pemain dan penyelenggara? Dengan Wimbledon yang terus berinvestasi, namun pemain tetap ngotot, jalan menuju kesepakatan masih panjang.



