Sinner Siap Tempur di Wimbledon: Bekal Latihan Panas Usai Tersingkir di Prancis
Baca dalam 60 detik
- Petenis nomor satu dunia Jannik Sinner mengaku kondisinya lebih prima jelang Wimbledon setelah gagal total di Prancis akibat kram saat gelombang panas.
- Ia menerapkan protokol latihan khusus dalam suhu tinggi untuk mengantisipasi cuaca ekstrem yang kian lazim di turnamen tenis.
- Di tengah ancaman boikot pemain soal pembagian hadiah, Sinner memilih fokus pada persiapan teknis demi mempertahankan gelar juara.

Jannik Sinner, petenis nomor satu dunia sekaligus juara bertahan Wimbledon, mengaku telah menemukan ritme kebugarannya kembali setelah tersingkir secara mengejutkan pada babak kedua Prancis Terbuka akibat kram di tengah gelombang panas Paris. Menjelang turnamen grand slam lapangan rumput yang dimulai Senin (3/7) di All England Club, ia menegaskan telah menyusun strategi khusus untuk menghadapi suhu ekstrem yang kian menjadi ancaman serius bagi para atlet.
Kekalahan di Roland Garros dari Juan Manuel Cerundolo—setelah unggul dua set—menjadi alarm bagi Sinner. Ia mengakui bahwa kondisi panas yang menyengat di ibu kota Prancis membuatnya kehilangan kendali fisik. “Semua tes menunjukkan hasil sangat baik, meski kami sadar harus berlatih dalam kondisi yang lebih panas,” ujar petenis Italia berusia 24 tahun itu dalam konferensi pers singkat, Sabtu (2/7).
Cuaca di Inggris sendiri tengah mengalami rekor gelombang panas dalam sepekan terakhir, meski suhu diperkirakan sedikit menurun saat turnamen dimulai. Sinner menilai tren pemanasan global membuat setiap turnamen semakin berat secara fisiologis. “Setiap tahun semakin panas. Ini topik yang sangat penting, dan saya senang dengan kerja keras yang kami lakukan,” tambahnya.
Yang menarik, Sinner enggan berkomentar panjang mengenai gejolak di kalangan pemain terkait pembagian pendapatan turnamen grand slam. Ia hanya memberi pernyataan singkat saat sesi jumpa pers yang berlangsung tak lebih dari 10 menit. Isu ini mencuat setelah sejumlah pemain berencana membatasi durasi wawancara pascapertandingan menjadi 15 menit pada pekan pertama Wimbledon, sebagai simbol protes terhadap alokasi hadiah yang hanya sekitar 15 persen dari total pendapatan turnamen. Aksi serupa sempat terjadi di Roland Garros, bahkan beberapa pemain mengancam akan melakukan boikot lebih luas.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat semakin seringnya turnamen tenis digelar di negara tropis seperti Indonesia, di mana suhu dan kelembaban tinggi menjadi tantangan utama. Federasi Tenis Indonesia (Pelti) dapat mempelajari pendekatan Sinner dalam mengelola kondisi fisik di cuaca panas, terutama untuk pembinaan atlet muda yang kerap tampil di turnamen internasional dengan iklim ekstrem.
Sinner sendiri memulai perjuangan mempertahankan gelar Wimbledon dengan menghadapi Miomir Kecmanovic dari Serbia pada hari pertama. “Kami melakukan beberapa perubahan. Ini proses panjang, tidak ada keajaiban. Tapi saya sangat puas dengan apa yang kami capai dalam 2,5 pekan terakhir,” tutupnya. Pertanyaan besarnya: akankah persiapan matang ini cukup untuk membawanya melaju jauh di tengah ancaman cuaca dan tekanan psikologis setelah kegagalan di Paris?



