Logistik Singapura Berpacu ke Kendaraan Listrik, Truk Berat Masih Tertahan
Baca dalam 60 detik
- Kenaikan harga solar global mendorong perusahaan logistik Singapura mempercepat adopsi kendaraan listrik untuk armada ringan.
- Keterbatasan infrastruktur pengisian daya untuk truk besar menghambat elektrifikasi kendaraan berat, dengan waktu pengisian hingga enam jam.
- Pemerintah dan asosiasi usaha kecil menengah mendorong penyederhanaan regulasi dan perluasan insentif untuk mempercepat transisi di seluruh sektor.

Melonjaknya harga solar yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong perusahaan logistik di Singapura mempercepat konversi armada ke kendaraan listrik, meskipun transisi untuk truk berat masih berjalan lambat akibat minimnya infrastruktur pengisian daya yang memadai.
Pemasok kendaraan listrik Hong Seh Group melaporkan permintaan untuk van listrik, minibus, dan lori ringan terus meningkat. Mengutip data Otoritas Transportasi Darat Singapura, perusahaan itu mencatat kendaraan semacam ini mencakup sekitar 25 persen dari seluruh registrasi kendaraan tahun lalu. Hanya dalam enam bulan pertama tahun ini, angkanya telah mencapai 33 persen. Direktur Eksekutif Hong Seh Group, Edward Tan, mengatakan teknologi kendaraan listrik kini semakin matang, termasuk fitur keselamatan yang lebih baik, sehingga menarik minat pelanggan. Penghematan biaya operasional menjadi daya tarik utama; menurut Tan, bahan bakar listrik bisa memangkas biaya hingga setengahnya, dan insentif pemerintah membuat harga pembelian kendaraan listrik setara atau bahkan lebih murah dibandingkan kendaraan konvensional.
Bagi penyedia logistik Call Lade Enterprises, efisiensi biaya menjadi faktor kunci. Chief Sustainability Officer Ryan Hoo mengungkapkan bahwa harga solar yang tinggi dan tidak menentu akibat konflik sejak akhir Februari lalu menyulitkan perencanaan jangka panjang. โKami tidak tahu kapan ini akan berakhir, dan kapan harga akan turun,โ ujarnya. Margin operasional perusahaan pun tertekan. Namun, tekanan tidak hanya datang dari biaya; pelanggan kini semakin menuntut rantai pasok yang lebih hijau dan emisi karbon yang lebih rendah. Perusahaan yang gagal memenuhi ekspektasi ini berisiko kehilangan kontrak. Saat ini, sekitar separuh armada van Call Lade Enterprises sudah menggunakan listrik.
Adopsi kendaraan listrik untuk truk berat jauh lebih rumit. Pelaku industri menunjuk pada kurangnya fasilitas pengisian daya yang sesuai. Saat ini, hanya sedikit stasiun pengisian yang mampu melayani truk besar dengan muatan di atas 50 ton, dan waktu pengisian bisa memakan waktu hingga enam jam. โKami tidak bisa membiarkan kendaraan mati,โ tegas Hoo. โKami tidak bisa membiarkan truk antre untuk diisi daya, menunggu hingga penuh sebelum beroperasi lagi.โ Hingga infrastruktur pengisian di simpul-simpul logistik utama tersebar luas dan andal, Call Lade Enterprises belum berani mengambil risiko operasional dengan beralih ke truk listrik. Sebagai langkah antisipasi, perusahaan tengah menjajaki pemasangan titik pengisian daya tambahan di area parkir kendaraan berat dalam tiga hingga lima tahun ke depan.
Presiden Asosiasi Usaha Kecil dan Menengah (ASME) Singapura, Ang Yuit, mengakui bahwa dibutuhkan waktu bagi segmen kendaraan berat untuk mengejar ketertinggalan. Namun, ia melihat tanda-tanda positif. Kemajuan teknologi baterai telah memperpanjang jarak tempuh kendaraan secara signifikan. Ang juga mengungkapkan bahwa beberapa kementerian sedang mengkaji lokasi pengisian daya berkecepatan tinggi untuk kendaraan berat guna mengatasi masalah ini. Ia mendesak penyederhanaan proses regulasi, termasuk sertifikasi lebih banyak pemasok untuk peralatan retrofit, serta perluasan hibah dan skema dukungan lain untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik di sektor logistik.
Bagi Indonesia, pengalaman Singapura menjadi cermin penting. Dengan harga solar yang juga fluktuatif di dalam negeri dan tekanan global untuk dekarbonisasi, adopsi kendaraan listrik di sektor logistik Tanah Air masih menghadapi tantangan serupa: infrastruktur pengisian yang terbatas, terutama untuk truk besar, serta kebutuhan akan insentif yang lebih terarah. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap mengikuti laju Singapura atau justru akan tertinggal dalam perlombaan elektrifikasi logistik?



