Liam Paro Kalahkan Lewis Crocker, Petinju Australia Pertama Sejak Fenech yang Jadi Juara Dua Kelas
Baca dalam 60 detik
- Liam Paro menang angka mutlak atas Lewis Crocker di Brisbane, merebut sabuk IBF kelas welter.
- Paro menjadi petinju Australia pertama sejak Jeff Fenech yang meraih gelar juara dunia di dua kelas berbeda.
- Kemenangan ini membuka peluang duel unifikasi melawan Devin Haney, Ryan Garcia, atau Rolly Romero.

Petinju Australia, Liam Paro, berhasil menaklukkan juara bertahan IBF kelas welter asal Belfast, Lewis Crocker, melalui kemenangan angka mutlak dalam laga sengit di Pat Rafter Arena, Brisbane, Sabtu (15/3). Kemenangan ini tidak hanya mengembalikan Paro ke puncak dunia tinju, tetapi juga mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai petinju Australia pertama sejak Jeff Fenech yang menjadi juara dunia di dua kelas berbeda.
Paro, yang sebelumnya pernah memegang sabuk IBF kelas ringan welter, harus bekerja keras selama 12 ronde untuk mengatasi perlawanan Crocker. Ketiga juri memberikan skor identik 115-113 untuk kemenangan Paro. Petinju berusia 30 tahun itu memulai pertarungan dengan agresif, memanfaatkan kecepatan dan variasi pukulan dari kiri, sementara Crocker baru menemukan ritme di ronde-ronde tengah dan nyaris menghentikan Paro di ronde 11. Namun, Paro bertahan hingga bel akhir berbunyi.
"Ini segalanya bagi saya. Saya pernah mencapai puncak sebelumnya, tetapi jatuh dan kini bangkit lagi. Banyak yang meragukan saya, tapi lihatlah sekarang. Saya ingin semua pertarungan besar di Australia. Hidup ini tentang menguji diri sendiri, jadi ayo," ujar Paro kepada Main Event usai pertarungan.
Crocker, yang baru pertama kali mempertahankan gelar yang direbutnya September lalu, mengakui kehebatan lawannya. "Pertarungan yang sangat ketat. Saya rasa wasit bisa lebih tegas terhadap pelukan, tapi selamat untuk Liam, dia petarung hebat," kata Crocker. Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi petinju 29 tahun itu, namun performa impresifnya di ronde akhir justru bisa meningkatkan pamornya di mata promotor.
Bagi Paro, kemenangan ini membuka jalan menuju laga unifikasi melawan pemegang sabuk lain di kelas welter: Devin Haney (WBO), Ryan Garcia (WBC), atau Rolando 'Rolly' Romero (WBA). Ia juga memiliki opsi pertarungan wajib melawan Paddy Donovan dari Irlandia, yang merupakan penantang mandatori IBF. Namun, mengingat laga ini adalah pertahanan wajib bagi Crocker, Paro kemungkinan bisa mendapatkan satu pertarungan sukarela atau unifikasi sebelum menghadapi Donovan.
Di sisi lain, Crocker harus memikirkan langkah selanjutnya. Kekalahan tipis di kandang lawan tidak serta-merta menghancurkan kariernya. Ia masih memiliki kekuatan pukulan yang dihormati. Salah satu opsi yang realistis adalah rematch dengan Conah Walker, yang pernah ia kalahkan dalam pertarungan sengit dua tahun lalu. Pada usia 29, Crocker masih memiliki waktu untuk membangun kembali reputasinya.
Pertarungan ini juga menjadi sorotan bagi penggemar tinju Indonesia. Meski tidak ada petinju Tanah Air yang terlibat, gelar juara dunia di kelas welter selalu menarik perhatian karena kelas ini kerap menjadi ajang pembuktian petinju Asia. Kemenangan Paro membuktikan bahwa petinju dari kawasan Oseania mampu bersaing di level tertinggi, menjadi inspirasi bagi petinju Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang tengah berusaha menembus panggung dunia.
Dengan kemenangan ini, Paro menegaskan bahwa dirinya layak diperhitungkan di divisi welter. Pertanyaan selanjutnya: mampukah ia menyatukan gelar dan menjadi yang terbaik di kelasnya? Ataukah Crocker akan bangkit dan merebut kembali kejayaannya? Jawabannya akan terungkap dalam beberapa bulan ke depan.



