Doja Cat Murka: Lagu Palsu Buatan AI Menipu Penggemar, Industri Musik Terancam?
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Doja Cat mengaku kecewa dan marah setelah lagu-lagu palsu hasil kecerdasan buatan (AI) dikira karya aslinya oleh penggemar.
- Ia menegaskan tidak terlibat dalam pembuatan lagu tersebut dan mengkritik keras penggunaan AI yang merugikan kreator.
- Kasus ini menyoroti ancaman serius AI terhadap hak cipta dan keaslian karya di industri musik global, termasuk Indonesia.

Kemarahan penyanyi Doja Cat meledak setelah penggemar tertipu oleh sederet lagu palsu hasil kecerdasan buatan (AI) yang beredar di media sosial dan dikira sebagai karya terbarunya. Pelantun "Say So" itu langsung angkat bicara melalui platform X untuk membantah keterlibatannya dan mengungkapkan kekecewaannya terhadap situasi yang dinilai merugikan integritas artistik.
Dalam unggahannya, Doja Cat menulis, "Saya sangat kecewa pada semua orang yang mengira itu saya. Persetan dengan AI." Ia menambahkan, "Semua lagu yang bocor dan diklaim sebagai milik saya adalah buatan AI. Tidak ada satu pun yang saya buat." Pernyataan tegas ini muncul setelah sejumlah akun penggemar dan kanal tidak resmi menyebarkan rekaman yang diklaim sebagai bocoran lagu anyar sang rapper berusia 30 tahun tersebut.
Fenomena lagu palsu hasil AI bukanlah hal baru, tetapi kasus Doja Cat menjadi sorotan karena skala penyebarannya yang masif dan kemampuan teknologi meniru gaya vokal secara meyakinkan. Menurut pengamat musik digital, teknologi AI generatif kini mampu menciptakan trek yang sulit dibedakan dari karya asli, terutama jika dilatih dengan data vokal artis yang bersangkutan. Hal ini membuka celah besar bagi pelanggaran hak cipta dan penipuan terhadap konsumen.
Di Indonesia, ancaman serupa mulai terasa. Beberapa musisi Tanah Air melaporkan temuan lagu palsu atas nama mereka di platform streaming ilegal. Belum ada regulasi spesifik yang mengatur penggunaan AI dalam produksi musik, sementara Undang-Undang Hak Cipta masih berfokus pada karya manusia. Kasus Doja Cat bisa menjadi momentum bagi industri musik Indonesia untuk mendorong perlindungan lebih ketat terhadap identitas vokal dan karya artis.
Doja Cat sendiri dikenal kerap bereaksi keras terhadap kritik di media sosial. Dalam wawancara dengan majalah Vogue, ia mengaku merasa perlu membela pilihan kreatifnya saat merasa terancam. "Ketika saya merasa terancamโmeskipun sebenarnya itu bukan ancamanโsaya seperti mendengar bisikan: 'Kamu gagal.' Saya tidak pernah berganti kostum, tapi saya merasa harus membela pilihan kreatif saya, dan itu memberi kekuatan pada orang-orang yang mungkin tidak layak mendapatkannya," ujarnya. Meski demikian, ia berharap bisa berhenti terlibat perdebatan daring saat usianya menginjak 50 tahun.
Kasus ini menimbulkan pertanyaan besar: sejauh mana regulasi dapat melindungi artis dari penyalahgunaan AI? Di Amerika Serikat, beberapa artis mulai mendorong undang-undang yang mewajibkan pelabelan konten buatan AI. Sementara itu, platform seperti Spotify dan Apple Music mulai memperketat verifikasi konten. Namun, tanpa kerja sama global, celah hukum akan terus dieksploitasi. Bagi musisi Indonesia, langkah antisipatif seperti watermarking vokal dan edukasi penggemar menjadi krusial untuk menjaga keaslian karya di era kecerdasan buatan.



