Istirahatkan Maro Itoje: Langkah Tepat atau Risiko bagi Inggris Hadapi Afrika Selatan?
Baca dalam 60 detik
- Pelatih asisten Inggris mendukung penuh keputusan mengistirahatkan kapten Maro Itoje dari laga melawan Afrika Selatan, meski duel tersebut sangat krusial.
- Itoje telah melampaui batas maksimal 30 pertandingan per musim yang direkomendasikan World Rugby, sehingga jeda ini dinilai penting untuk menjaga kebugarannya.
- Keputusan ini membuka peluang bagi pemain muda seperti Henry Pollock untuk unjuk gigi, di tengah sorotan tajam dari publik Afrika Selatan.

Keputusan pelatih Inggris untuk mengistirahatkan kapten Maro Itoje pada laga melawan juara dunia Afrika Selatan bulan depan mendapat dukungan penuh dari asisten pelatih senior Richard Wigglesworth. Langkah ini diambil demi menjaga kebugaran pemain berusia 31 tahun yang telah melewati batas rekomendasi World Rugby terkait jumlah pertandingan dalam semusim.
Itoje, yang juga memimpin British and Irish Lions dalam tur Australia tahun lalu dan akan menjadi kapten Inggris di Piala Dunia Rugby Australia tahun depan, telah bermain melebihi 30 pertandingan dalam dua musim terakhir. Menurut Wigglesworth, keputusan ini adalah bentuk tanggung jawab tim terhadap pemainnya. "Saya sangat senang kami bisa melakukan yang terbaik untuknya. Dia telah melalui banyak hal, bukan hanya tahun lalu tetapi selama bertahun-tahun dalam kariernya," ujar Wigglesworth, yang pernah bermain bersama Itoje di Saracens dan tim nasional.
Tanpa Itoje, Inggris memiliki beberapa opsi di lini kedua, termasuk George Martin yang baru pulih dari cedera 14 bulan, Alex Coles yang perkembangannya menjadi salah satu titik terang di Six Nations, serta Ollie Chessum yang bisa dimainkan sebagai flanker. Wigglesworth yakin Itoje akan kembali lebih baik setelah istirahat. "Maro adalah pemain yang paling baik dalam menggunakan waktunya. Saya menantikan kabar setelah dia beristirahat dan kembali dalam kondisi prima," tambahnya.
Tur musim panas ini menjadi ujian berat bagi Inggris, tidak hanya karena lawan tangguh tetapi juga jadwal perjalanan yang melelahkan. Setelah melawan Springboks di Johannesburg, mereka harus terbang ke Liverpool untuk menghadapi Fiji, lalu ke Santiago del Estero untuk bertemu Argentina. Namun Wigglesworth menepis kekhawatiran tersebut. "Kami semua akan tetap bersama. Ini adalah tantangan yang menarik dan kami tidak akan mundur. Ada orang yang melakukan hal jauh lebih sulit daripada sekadar naik pesawat kelas bisnis," katanya.
Di sisi lain, pelatih Afrika Selatan Rassie Erasmus mengaku tidak yakin dengan taktik yang akan diterapkan Inggris. "Steve Borthwick adalah pelatih yang bekerja dengan angka dan tren. Jika saya mengatakan saya tahu persis apa yang akan mereka lakukan, saya berbohong," ujar Erasmus. Ia juga telah merekrut dua staf dari Inggris, yaitu Felix Jones sebagai pelatih pertahanan dan Joe Lewis sebagai analis utama, untuk membantu persiapan timnya.
Erasmus juga memberikan dukungan kepada pemain muda Inggris, Henry Pollock, yang sempat dikritik oleh beberapa pengamat Afrika Selatan. Mantan pemain Springbok Schalk Burger menyebut Pollock sebagai "penari TikTok yang bermain rugby", namun Erasmus menilai yang terpenting adalah performa di lapangan. "Apa yang mereka lakukan di lapangan itulah yang diperhitungkan. Akhir-akhir ini, dia tampil luar biasa. Jika saya melatihnya, saya hanya akan melihat output-nya," tegas Erasmus.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, keputusan mengistirahatkan Itoje menjadi pelajaran berharga tentang manajemen beban pemain di era kompetisi yang semakin padat. Dengan Piala Dunia 2027 yang akan digelar di Australia, langkah Inggris ini bisa menjadi strategi jangka panjang untuk menjaga performa puncak pemain kuncinya. Pertanyaannya, apakah risiko kehilangan kapten di laga melawan juara dunia akan terbayar dengan kebugaran Itoje di turnamen besar mendatang?



