Dua Peserta Meninggal, DPR Desak Evaluasi Pelatihan Militer Pengelola Koperasi Desa
Baca dalam 60 detik
- Komisi I DPR meminta Kemhan dan TNI mengkaji ulang Latihan Dasar Militer bagi calon pengelola koperasi desa dan kampung nelayan setelah dua peserta meninggal.
- Korban pertama dilaporkan meninggal akibat heat stroke, sementara korban kedua karena henti jantung, meski telah lolos pemeriksaan kesehatan.
- Anggota DPR menilai porsi materi kemiliteran perlu dikurangi dan diganti dengan pelatihan manajemen koperasi yang lebih relevan.

Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat mendesak Kementerian Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia untuk mengevaluasi secara menyeluruh program Latihan Dasar Militer yang menyertai pelatihan pengelola koperasi desa dan kampung nelayan, menyusul kematian dua peserta dalam waktu berdekatan.
Anggota Komisi I DPR TB Hasanuddin menyatakan pihaknya telah menerima laporan bahwa dua peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal dunia saat mengikuti latihan di fasilitas TNI. Satu peserta dilaporkan meninggal karena serangan panas (heat stroke), sementara lainnya akibat henti jantung. "Dengan adanya dua korban, sudah saatnya program ini dievaluasi, terutama aspek kesehatan dan materi pelatihannya," ujar TB di kompleks parlemen, Rabu (24/6).
Menurut TB, evaluasi harus mencakup pemeriksaan kesehatan yang lebih ketat bagi calon peserta. Ia juga menekankan bahwa materi latihan dasar militer—seperti menembak, baris-berbaris, dan aktivitas fisik berat di bawah terik matahari—sebaiknya dikurangi porsinya. "Calon pengelola koperasi desa dan kampung nelayan boleh saja mendapat pengetahuan dasar militer, tetapi yang lebih utama adalah pelatihan manajemen koperasi, tata kelola keuangan, dan strategi pengembangan usaha," tegas politikus PDI Perjuangan itu.
Kementerian Pertahanan sebelumnya membenarkan kabar duka tersebut. Dalam keterangan tertulis, Kepala Biro Informasi dan Hubungan Masyarakat Setjen Kemhan Brigjen Rico Ricardo Sirait menyampaikan duka cita mendalam. Ia merinci bahwa Anisa Muyassaroh, peserta yang mengikuti pendidikan di Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan, mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni dan dinyatakan meninggal akibat heat stroke. Sementara Yonanda Muhammad Taufiq, yang berlaga di Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja, meninggal pada 17 Juni karena cardiac arrest.
Kemhan menegaskan bahwa sebelum mengikuti program, para peserta telah melalui tahapan seleksi sesuai ketentuan, termasuk pemeriksaan kesehatan, dan dinyatakan memenuhi syarat. Namun, pernyataan tersebut tidak meredakan kekhawatiran publik. Sejumlah pihak mempertanyakan kesesuaian antara tujuan program—mencetak pengelola koperasi desa yang profesional—dengan metode pelatihan yang mengedepankan aktivitas fisik ala militer.
Program SPPI Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih merupakan inisiatif Kementerian Pertahanan yang bertujuan memberdayakan ekonomi desa melalui koperasi. Namun, insiden ini memicu perdebatan tentang efektivitas dan keamanan pelatihan. TB Hasanuddin mengingatkan bahwa esensi program adalah penguatan ekonomi kerakyatan, bukan pembentukan mental militer. "Jangan sampai niat baik memberdayakan desa malah menimbulkan korban jiwa. Evaluasi menyeluruh harus segera dilakukan," pungkasnya.
Ke depan, DPR berencana memanggil pihak Kemhan dan TNI untuk membahas hasil evaluasi serta kemungkinan revisi kurikulum pelatihan. Pertanyaan yang mengemuka: apakah model pelatihan militer masih relevan untuk program pemberdayaan ekonomi desa, atau justru perlu diubah total agar lebih sesuai dengan kebutuhan peserta?



