Piala Dunia 2026: Lima Tim Sudah Dipastikan Tersingkir, Format Baru Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Lima negara telah resmi tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah kalah di dua laga perdana grup mereka.
- Format baru turnamen menjadikan rekor head-to-head sebagai pemecah utama poin seri, menggantikan selisih gol.
- Dari 48 peserta, 16 tim akan angkat koper setelah fase grup berakhir, termasuk empat peringkat ketiga terburuk.

Lima negara sudah harus mengakhiri perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 lebih awal setelah dua pekan pertama fase grup menyisakan pahitnya kekalahan beruntun. Haiti, Turki, Tunisia, Yordania, dan Panama menjadi tim pertama yang resmi tersingkir, meninggalkan turnamen dengan catatan tanpa poin dan tanpa kemenangan.
Dari total 48 peserta, sebanyak 16 tim akan dipastikan pulang setelah fase grup rampung pada Minggu dini hari WIB. Selain lima tim yang sudah tersingkir, seluruh juru kunci grup dan empat peringkat ketiga dengan rekor terburuk akan menyusul. Aturan ini merupakan konsekuensi dari perluasan jumlah peserta dari 32 menjadi 48 untuk edisi 2026.
Haiti, yang baru kembali ke panggung Piala Dunia setelah absen sejak 1974, harus menerima kenyataan pahit setelah dikalahkan Skotlandia dan Brasil di Grup C. Sementara itu, Turki menjadi wakil Eropa pertama yang angkat koper setelah takluk dari Australia dan Paraguay. Tunisia, satu-satunya wakil Afrika yang sudah pasti tersingkir, kebobolan empat gol di masing-masing laga melawan Swedia dan Jepang.
Yordania, yang debut di Piala Dunia edisi ini, gagal meraih poin dan menjadi satu-satunya wakil Asia yang sudah dipastikan tidak lolos. Di Grup L, Panama yang berada satu grup dengan Inggris harus mengakui keunggulan Ghana dan Kroasia dengan skor tipis 1-0. Kekalahan tipis ini menunjukkan bahwa persaingan di grup tersebut sangat ketat, namun Panama belum mampu bersaing.
Perubahan format turnamen menjadi sorotan utama. Untuk pertama kalinya, FIFA menerapkan rekor head-to-head sebagai pemecah utama jika dua atau lebih tim memiliki poin yang sama, menggantikan selisih gol. Aturan ini membuat setiap pertandingan antar tim yang bersaing langsung menjadi krusial, karena hasil pertemuan langsung akan menentukan nasib mereka. Bagi tim yang kalah head-to-head, peluang lolos lewat selisih gol pun tertutup.
Bagi Indonesia, meski tidak ikut serta, perubahan format dan dinamika Piala Dunia 2026 memberikan pelajaran berharga. Ketatnya persaingan di level tertinggi menunjukkan bahwa konsistensi dan strategi jangka panjang sangat diperlukan. Selain itu, penggunaan tiebreaker head-to-head bisa menjadi referensi bagi PSSI dalam menyusun regulasi kompetisi domestik agar lebih kompetitif dan adil.
Ke depan, dengan masih banyaknya pertandingan fase grup yang tersisa, persaingan untuk memperebutkan tiket ke babak gugur diprediksi semakin sengit. Akankah ada kejutan lain dari tim-tim yang sebelumnya dianggap underdog? Atau justru tim-tim besar yang selama ini diunggulkan akan tersandung? Semua akan terjawab dalam beberapa hari ke depan.



