Pemain Swedia Menangkan Gugatan atas Lazio: Pemutusan Kontrak karena Hamil Dinyatakan Ilegal
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) memenangkan gugatan Maja Gothberg setelah Lazio memutus kontraknya secara sepihak karena kehamilan.
- Klub asal Italia itu diwajibkan membayar kompensasi dan ganti rugi moral, serta dinyatakan telah menyebarkan informasi medis tanpa izin.
- Putusan ini memperkuat perlindungan bagi pesepak bola wanita dan menjadi preseden bagi kasus serupa di industri sepak bola global.

Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) menjatuhkan putusan bersejarah dengan mewajibkan Lazio Women membayar kompensasi kepada mantan gelandang asal Swedia, Maja Gothberg, setelah klub tersebut secara ilegal memutus kontraknya karena kehamilan. Keputusan ini dinyatakan sebagai terobosan oleh serikat pemain global FifPro, yang menegaskan bahwa hak-hak pesepak bola wanita selama masa kehamilan tidak dapat diabaikan begitu saja.
Gothberg, yang membela Lazio pada musim 2023-2024, mengaku telah mencapai kesepakatan kontrak baru melalui pesan WhatsApp dengan pihak klub. Namun, setelah ia memberitahukan kehamilannya—meski tidak diwajibkan secara hukum—Lazio membatalkan perjanjian tersebut dan kemudian mengklaim bahwa pemain itu tidak lagi ingin bermain. CAS menilai tindakan Lazio melanggar regulasi FIFA yang mewajibkan klub membuktikan bahwa pemutusan kontrak tidak terkait dengan kehamilan, serta menjadikan informasi medis sebagai data rahasia.
Selain kompensasi finansial, Lazio juga dihukum membayar ganti rugi moral karena membocorkan status kehamilan Gothberg kepada beberapa rekan setim tanpa persetujuannya. Dalam pernyataannya, Gothberg menekankan bahwa kasus ini bukan sekadar soal sepak bola, melainkan tentang perlakuan adil dan rasa hormat pada momen penting dalam hidupnya. Ia berharap putusan ini mengirim pesan bahwa kehamilan tidak boleh dianggap sebagai masalah atau alasan untuk menolak kesempatan kerja.
Direktur Hukum FifPro, Alexandra Gomez Bruinewoud, menyebut putusan ini membuktikan bahwa Regulasi Maternitas FIFA bukan sekadar dokumen. "Klub tidak bisa begitu saja meninggalkan hubungan kerja begitu mengetahui pemain hamil, meskipun kontrak belum diformalkan," ujarnya. Kasus Gothberg menjadi preseden penting setelah sebelumnya pemain Islandia, Sara Bjork Gunnarsdottir, memenangkan tuntutan serupa terhadap Olympique Lyon pada 2023. Saat itu, FIFA memerintahkan Lyon membayar gaji yang belum dibayarkan sebesar lebih dari €82.000 dan mengancam akan memberikan larangan transfer jika tidak dipenuhi dalam 45 hari.
Perlindungan terhadap pesepak bola wanita terus diperkuat. Pada 2024, FIFA memperluas cakupan cuti hamil berbayar hingga mencakup pelatih, dengan durasi minimal 14 minggu dengan gaji penuh. Klub juga diizinkan merekrut pemain di luar jendela transfer jika ada anggota skuad yang mengambil cuti hamil, adopsi, atau cuti keluarga. Di Inggris, mantan striker Timnas Inggris, Toni Duggan, menjadi pemain Women's Super League pertama yang menerima tunjangan hamil saat membela Everton pada 2022. Sementara itu, Asosiasi Pesepak Bola Profesional (PFA) Inggris baru saja menjalin kemitraan dengan klinik kesuburan untuk memberikan akses konseling dan diskon perawatan bagi anggotanya.
Bagi Indonesia, putusan ini menjadi pengingat bahwa regulasi ketenagakerjaan di sepak bola wanita masih perlu diperkuat. Meskipun Liga 1 Putri belum sepenuhnya profesional, kasus seperti ini bisa menjadi acuan bagi pengembangan kebijakan yang lebih ramah terhadap pemain perempuan, terutama terkait hak-hak reproduksi. Ke depannya, apakah federasi sepak bola Indonesia akan mengadopsi standar serupa untuk melindungi pesepak bola wanita dari diskriminasi?



