Inter Milan Gagal Borong Tiga Target: Palestra ke Chelsea, Paz ke Como, Jones Dibayangi Arsenal
Baca dalam 60 detik
- Inter Milan kehilangan Marco Palestra yang memilih Chelsea dengan nilai transfer €60 juta, membuat lini kanan pertahanan kian kritis.
- Nico Paz, talenta Argentina incaran Inter, justru bergabung dengan Como dengan kesepakatan permanen senilai €60 juta.
- Curtis Jones menjadi target rumit karena Liverpool membanderol €40 juta, sementara Inter hanya bersedia €25 juta dan Arsenal ikut mengintai.

Inter Milan memasuki bursa transfer musim panas ini dengan serangkaian kegagalan yang mengejutkan. Tiga target utama—Marco Palestra, Nico Paz, dan Curtis Jones—kini hampir pasti tidak akan berseragam Nerazzurri musim depan. Kegagalan ini tidak hanya mengancam rencana rekrutmen, tetapi juga memperlihatkan keterbatasan daya saing Inter di pasar pemain Eropa.
Palestra, bek sayap kanan yang menjadi prioritas utama pelatih Cristian Chivu, memutuskan bergabung dengan Chelsea dalam kesepakatan senilai €60 juta. Kepergian Denzel Dumfries ke Real Madrid membuat posisi wing-back kanan Inter kosong, dan kegagalan mendapatkan Palestra semakin memperparah situasi. Inter sebenarnya telah menyiapkan dana khusus untuk pemain berusia 22 tahun itu, namun tawaran mereka kalah bersaing dengan raksasa Premier League.
Kegagalan kedua datang dari Nico Paz, gelandang serang Argentina yang sempat dikaitkan sebagai alternatif pengalihan dana Palestra. Namun, Paz justru memilih pindah ke Como dengan nilai transfer permanen €60 juta. Como, yang baru promosi ke Serie A, menunjukkan ambisi besar dengan merekrut pemain muda berbakat, sementara Inter harus gigit jari.
Situasi paling rumit kini menimpa Curtis Jones. Gelandang Liverpool itu memasuki tahun terakhir kontraknya, membuat Inter berharap bisa mendapatkannya dengan harga miring. Namun, Liverpool bersikukuh dengan banderol €40 juta. Inter telah dua kali mengajukan tawaran, tertinggi €25 juta, dan keduanya ditolak. Klub Italia itu dilaporkan 'stuck' di angka tersebut dan enggan menaikkan penawaran, mengingat Jones bisa hengkang gratis musim depan dan mulai bernegosiasi dengan klub lain mulai Januari.
Ancaman tambahan datang dari Arsenal. Klub Premier League itu dikabarkan tertarik memboyong Jones, dan dengan kekuatan finansial yang lebih besar, mereka bisa menjadi pesaing serius. Jika Arsenal serius, Inter hampir pasti kalah bersaing.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi ini menjadi cermin bagaimana klub-klub Italia, termasuk Inter, mulai tertinggal dalam perburuan pemain muda berbakat. Di era di mana klub-klub Premier League dan bahkan klub promosi seperti Como berani mengeluarkan dana besar, Inter harus berpikir ulang tentang strategi transfer mereka. Apakah mereka akan bertahan dengan pendekatan hati-hati, atau justru kehilangan momentum di bursa transfer?
Ke depan, Inter perlu segera mencari alternatif. Nama-nama seperti Emil Audero atau pemain sayap kanan lain mulai disebut, namun tanpa suntikan dana segar, sulit bagi Nerazzurri untuk bersaing. Pertanyaan besarnya: akankah Inter belajar dari kegagalan ini, atau justru terus terpuruk di bursa transfer?



