Peringatan Pakar: AI Bukan Jaminan Sukses Daftar Universitas Usai Gaokao
Baca dalam 60 detik
- Pakar pendidikan China memperingatkan penggunaan AI secara berlebihan dalam pendaftaran universitas dapat menyebabkan pilihan yang salah dan lonjakan aplikasi serupa.
- Data yang usang dan rekomendasi seragam dari AI berpotensi meningkatkan risiko penolakan karena penumpukan pelamar pada program yang sama.
- Para ahli mendorong siswa dan orang tua untuk tetap mengandalkan saluran resmi dan diskusi manusia dalam pengambilan keputusan.

Lebih dari 13 juta siswa China yang baru saja menjalani Gaokao—ujian masuk perguruan tinggi paling ketat di dunia—kini dihadapkan pada godaan besar: menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menyusun daftar pilihan universitas. Namun, para pakar pendidikan justru mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada teknologi ini bisa berujung pada keputusan yang keliru dan memicu penumpukan pelamar pada jurusan yang sama.
Xu Qicheng, guru SMA senior di Provinsi Anhui, dalam sebuah program radio nasional pekan ini menegaskan bahwa "mempercayai AI secara membabi buta" seringkali menghasilkan kesalahan. Menurut Xu, data yang digunakan AI kerap tidak mutakhir—banyak universitas telah mengubah kuota penerimaan untuk tahun 2026, sementara jurusan-jurusan baru bermunculan dan jurusan populer pun mengalami pergeseran. Ia juga memperingatkan bahwa siswa dengan skor serupa cenderung mendapat rekomendasi yang hampir identik, sehingga memicu "pengelompokan aplikasi" yang justru memudahkan panitia untuk menolak mereka.
Senada dengan Xu, Li Qing—direktur penerimaan Beijing University of Chemical Technology—menilai AI hanya mampu memberikan referensi umum, bukan penilaian mendalam terhadap minat dan potensi siswa. "Keputusan sejati tetap ada di tangan manusia, AI tidak bisa menggantikannya," ujarnya kepada Chengdu Business Daily. Sementara itu, Chen Zhiwen, anggota komite penasihat Kementerian Pendidikan, menyayangkan banyak orang tua dan anak yang "enggan berpikir kritis" dan lebih memilih menyerahkan segalanya pada AI. Ia mendorong agar diskusi keluarga diutamakan, karena tidak ada yang lebih memahami anak selain diri mereka sendiri.
Fenomena ini tidak lepas dari maraknya platform AI seperti DeepSeek dan Doubao yang menawarkan rencana pendaftaran personal. Cukup memasukkan provinsi, skor, dan kombinasi mata pelajaran, AI langsung menampilkan daftar universitas dan jurusan yang "cocok". Di media sosial seperti Xiaohongshu, para blogger dan influencer AI pun ramai membagikan kiat dan prompt terbaik. Sebagian siswa mengaku puas—"Saya rasa pakai AI sudah lebih dari cukup," kata seorang pengguna dengan nama Wish Mama. Namun, tidak sedikit yang skeptis. "AI mudah ngawur," ujar Qingtian, pengguna lain, seraya menambahkan bahwa proses pendaftaran tetap membutuhkan verifikasi manusia. Guo Zili bahkan menyebut AI hanya alat pencari: "Kalau asal copy-paste, kamu tidak akan masuk universitas mana pun."
Di Indonesia, meskipun tidak ada ujian semegah Gaokao, fenomena serupa mulai terlihat. Platform AI seperti ChatGPT dan Gemini kerap digunakan siswa SMA untuk menyusun pilihan jurusan saat Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) atau jalur mandiri. Namun, data universitas di Indonesia juga cepat berubah—kuota jurusan, akreditasi, hingga tren pasar kerja—sehingga informasi yang disajikan AI bisa usang. Pakar pendidikan di Tanah Air pun mulai mengingatkan agar siswa tidak sepenuhnya bergantung pada AI, melainkan tetap berkonsultasi dengan guru BK, orang tua, dan portal resmi seperti LTMPT.
Ke depan, tantangan terbesar bukanlah pada kecanggihan AI, melainkan pada kesadaran pengguna untuk tidak menyerahkan sepenuhnya keputusan hidup pada mesin. Akankah siswa dan orang tua di Indonesia belajar dari pengalaman China, atau justru mengulangi kesalahan yang sama?



