Nayan Project: Kampanye Deteksi Dini Buta Warna dari Remaja 16 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Celine Winarta, 16 tahun, meluncurkan Nayan Project untuk meningkatkan kesadaran deteksi dini buta warna di Indonesia.
- Program perdana di Bandung menjangkau 200 peserta, didukung RS Mata Cicendo dan komunitas Anak Cerah Indonesia.
- Inisiatif ini mendorong agar BPJS Kesehatan mencakup pemeriksaan buta warna dan memperluas edukasi ke sekolah negeri.

Seorang remaja berusia 16 tahun, Celine Winarta, menggagas Nayan Project, sebuah gerakan edukasi yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya deteksi dini buta warna. Program perdana digelar di SDN 022 Cicadas, Kota Bandung, pada Senin (22/6), menjangkau sekitar 200 peserta yang terdiri dari siswa, guru, dan orang tua.
Nayan Project lahir dari pengalaman pribadi Celine yang memiliki teman dengan kondisi buta warna. Temannya itu dapat menjalani kehidupan normal karena kondisinya terdeteksi sejak dini. "Maka sejak itu aku tergerak untuk melakukan sesuatu," ujar Celine. Inspirasi semakin kuat setelah ia membaca buku Nayan dan Misteri Warna karya dr. Antonia Kartika, Direktur Utama RS Mata Pusat Cicendo.
Nama "Nayan" berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti "penglihatan". Gerakan ini merupakan inisiatif komunitas Anak Cerah Indonesia (ACI) yang berkolaborasi dengan RS Mata Cicendo dan Panon Mahia Nusa. ACI sendiri memiliki tiga fokus utama: edukasi dan kesadaran tentang masalah anak dan kesehatan, wadah bagi anak muda untuk menjadi relawan, serta aksi nyata peduli kesehatan anak.
Menurut Celine, setelah dari Bandung, edukasi akan dilanjutkan ke kota-kota lain dengan fokus utama menjangkau sekolah-sekolah negeri. Ia juga menyoroti pentingnya BPJS Kesehatan untuk mencakup pemeriksaan buta warna. "Sejauh ini belum, mungkin karena kurangnya informasi tentang buta warna itu sendiri," katanya. Ke depan, Nayan Project diharapkan bisa berlanjut ke provinsi lain dan memperkuat kampanye melalui media sosial, mengingat Gen-Z dan Gen-Alpha merupakan digital native.
Direktur Utama RS Mata Pusat Cicendo, dr. Antonia Kartika, menjelaskan bahwa edukasi terkait buta warna di Indonesia masih minim. Orang tua dan guru perlu memahami tanda-tanda awal, seperti anak sering salah menyebut warna, kesulitan mengikuti pelajaran yang menggunakan kode warna, atau kebingungan saat membaca peta dan grafik berwarna. Deteksi dini bukan untuk membatasi masa depan anak, melainkan agar anak dapat beradaptasi dan mengembangkan potensinya secara optimal.
RS Mata Cicendo mendukung penuh inisiatif Nayan Project karena gerakan ini dilakukan oleh anak muda. Keterlibatan Gen-Z dan Gen-Alpha dinilai sangat penting untuk memperbaiki penglihatan anak-anak Indonesia di masa depan. dr. Antonia menambahkan, penglihatan warna sangat berpengaruh terhadap pendidikan karena hampir semua mata pelajaran berkaitan dengan warna. Anak dengan gangguan penglihatan warna kerap menjawab salah saat diminta mengidentifikasi grafik berwarna, padahal ia tidak mengalami kekurangan, hanya identifikasi warnanya berbeda.
Kegiatan di SDN 022 Cicadas berlangsung meriah sejak pukul 07.00 WIB. ACI menggandeng produsen alat tulis Snowman untuk membagikan bingkisan kepada seluruh anak. Antusiasme masyarakat tinggi meski acara digelar saat libur sekolah. Pertanyaan yang tersisa: mampukah Nayan Project mengubah kebijakan BPJS dan menjadikan deteksi dini buta warna sebagai standar nasional?



