Rupiah Terus Merosot ke Rp17.900, BI Minta Masyarakat Kurangi Penggunaan Dolar
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka melemah 0,36% ke Rp17.900 per dolar AS pada Rabu (24/6/2026), melanjutkan tren negatif di tengah penguatan indeks dolar ke level tertinggi 13 bulan.
- Bank Indonesia meminta masyarakat hanya menggunakan rupiah untuk transaksi domestik dan membatasi penukaran dolar maksimal US$10.000 guna menekan spekulasi.
- Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan stabilitas rupiah membutuhkan partisipasi seluruh warga, bukan hanya otoritas moneter.

Rupiah kembali terperosok ke level psikologis baru pada perdagangan Rabu (24/6/2026), dibuka di Rp17.900 per dolar Amerika Serikat atau melemah 0,36%, seiring indeks dolar yang menyentuh posisi terkuat dalam 13 bulan terakhir. Di tengah tekanan global yang kian deras, Bank Indonesia (BI) tak hanya mengandalkan instrumen moneter, tetapi juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga stabilitas mata uang Garuda dengan mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam acara Economic Update CNBC Indonesia 2026 menekankan bahwa upaya menstabilkan rupiah tidak bisa dilakukan sendirian oleh bank sentral. Ia mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk menggunakan rupiah sebagai alat transaksi utama di dalam negeri, terutama untuk kebutuhan yang tidak memiliki dasar transaksi riil dalam dolar. "Kalau tidak ada kebutuhan dolar AS, ya kita pakai rupiah. Kan kita di domestik bayar apapun juga pakai rupiah," ujarnya.
Langkah BI dalam membatasi penukaran dolar AS maksimal US$10.000 per transaksi dinilai sebagai bagian dari penataan ulang permintaan valas, bukan pelarangan. Destry menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan mencegah transaksi spekulatif yang tidak memiliki underlying ekonomi. "Kami tidak bermaksud membatasi penggunaan dolar AS, tapi harus ada underlying-nya. Kalau tidak, itu menjadi spekulatif," tegasnya.
Tekanan terhadap rupiah tak lepas dari penguatan dolar AS di pasar global. Indeks dolar (DXY) pada pukul 09.00 WIB tercatat menguat tipis 0,03% ke 101,432, melanjutkan kenaikan 0,38% pada penutupan sebelumnya. Level ini merupakan yang tertinggi sejak Mei 2025, mencerminkan ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang masih bertahan lebih lama.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah yang terus berlanjut berpotensi meningkatkan tekanan inflasi impor dan membebani sektor usaha yang memiliki utang dalam dolar. Namun, BI optimistis kebijakan penataan ulang permintaan valas dan ajakan untuk mencintai rupiah dapat meredam gejolak. Pertanyaannya, akankah imbauan moral cukup efektif di tengah ekspektasi dolar yang masih perkasa, atau BI perlu kembali menaikkan suku bunga acuan?



