CFD Makin Ramah Pejalan Kaki: Transjakarta Siapkan Rute Baru Senayan–Ancol, Tarif Cuma Rp1 di Hari Peluncuran
Baca dalam 60 detik
- Pemprov DKI menambah layanan shuttle Transjakarta rute Bundaran Senayan–Ancol setiap Minggu selama CFD, dengan tarif reguler Rp3.500.
- Pada peluncuran perdana 9 Agustus 2026, penumpang cukup membayar Rp1 sebagai bentuk apresiasi, sekaligus menandai operasional call center baru 1500813.
- Dishub juga menginisiasi program Pelopor Kita Jakarta yang menyasar pelajar, ojek online, dan awak angkutan umum untuk membangun budaya keselamatan berkelanjutan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperluas akses transportasi publik di akhir pekan dengan meluncurkan rute shuttle Transjakarta yang menghubungkan kawasan Bundaran Senayan hingga Ancol, tepat saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau car free day. Layanan ini dijadwalkan beroperasi setiap Minggu mulai pukul 06.00 hingga 10.00 WIB, dengan waktu tunggu sekitar 20 menit, dan hanya dikenakan tarif reguler Rp3.500.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Budi Awaluddin, menyatakan bahwa rute baru bernomor 15ST ini merupakan respons atas tingginya animo warga yang memanfaatkan CFD untuk berolahraga dan berekreasi. “Kami ingin memastikan mobilitas warga tetap lancar tanpa mengorbankan kenyamanan, dan tarifnya tetap terjangkau,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (8/8). Penambahan rute ini juga menjadi bagian dari upaya integrasi moda transportasi yang lebih masif di ibu kota.
Yang menarik, pada hari peluncuran yang bertepatan dengan Minggu (9/8), penumpang hanya perlu membayar Rp1 sebagai simbol apresiasi. Langkah ini dinilai sebagai strategi promosi sekaligus mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal. Namun, di balik kemeriahan tarif spesial, peluncuran ini juga menjadi ajang bagi Pemprov DKI untuk memperkenalkan dua inisiatif baru: Call Center Dishub 1500813 dan program Pelopor Kita Jakarta.
Call Center 1500813 dirancang sebagai pusat pengaduan dan bantuan yang beroperasi 24 jam sehari. Layanan ini tidak hanya menerima laporan kerusakan jalan atau parkir liar, tetapi juga membantu proses derek kendaraan dan pemanduan darurat. Budi menegaskan bahwa kanal ini diharapkan mampu memangkas birokrasi yang selama ini kerap menjadi keluhan warga. “Kami ingin respons yang cepat, tepat, dan humanis,” tambahnya.
Sementara itu, program Pelopor Kita Jakarta hadir dengan pendekatan yang berbeda dari sosialisasi keselamatan pada umumnya. Program ini tidak sekadar seremonial, melainkan membangun ekosistem pembinaan kepemimpinan yang berkelanjutan. Empat pilar utama yang diusung adalah Pelajar Pelopor, OJOL Pelopor Jakarta, Awak Angkutan Umum Teladan, serta kategori khusus lain yang berkontribusi pada transportasi. Melalui siklus kampanye, seleksi talenta, bootcamp kepemimpinan, hingga jaringan alumni, diharapkan lahir agen-agen perubahan di masyarakat.
Bagi warga Jakarta, kehadiran rute baru ini menjadi angin segar di tengah keterbatasan akses menuju kawasan wisata Ancol saat CFD. Sebelumnya, pengunjung kerap kesulitan mencari transportasi umum yang langsung menuju kawasan tersebut. Dengan adanya shuttle ini, diharapkan kawasan Ancol semakin mudah dijangkau tanpa harus menggunakan kendaraan pribadi. Selain itu, integrasi dengan moda lain seperti MRT dan LRT yang telah beroperasi akan semakin memperkuat jaringan transportasi terpadu Jakarta.
Namun, pertanyaan yang muncul adalah apakah layanan ini akan bertahan lama atau hanya menjadi program musiman. Pengamat transportasi menilai bahwa keberlanjutan rute ini sangat bergantung pada tingkat okupansi penumpang. Jika antusiasme masyarakat tinggi, bukan tidak mungkin rute ini akan diperpanjang jam operasionalnya atau bahkan ditambah frekuensinya. Sebaliknya, jika sepi, evaluasi besar-besaran bisa saja terjadi.
Ke depan, Dishub DKI perlu memastikan sosialisasi yang masif agar warga mengetahui keberadaan rute baru ini. Pemanfaatan media sosial dan aplikasi Tije (Transjakarta) bisa menjadi kunci. Apakah langkah ini akan diikuti dengan penambahan rute shuttle lain di titik-titik CFD yang berbeda? Waktu yang akan menjawab, namun inisiatif ini setidaknya menunjukkan bahwa pemerintah tidak tinggal diam dalam menghadirkan solusi mobilitas yang ramah lingkungan.



