AC Milan Resmi Putus Kontrak Ismael Bennacer: Akhir Petualangan Tujuh Tahun di San Siro
Baca dalam 60 detik
- Gelandang asal Aljazair, Ismael Bennacer, resmi berpisah dengan AC Milan setelah kontraknya diakhiri secara sepihak pada Jumat lalu.
- Bennacer, yang pernah menjadi pilar Scudetto 2021-22, gagal kembali ke performa terbaiknya akibat cedera lutut berkepanjangan.
- Kepergiannya membuka ruang bagi regenerasi lini tengah Milan, sekaligus menjadi sinyal bagi klub-klub Asia, termasuk Indonesia, untuk memantau peluang transfer.

AC Milan secara resmi mengumumkan perpisahan dengan gelandang internasional Aljazair, Ismael Bennacer, pada Jumat (8/8). Keputusan ini menutup babak tujuh tahun kebersamaan pemain berusia 28 tahun itu di San Siro, sekaligus menandai akhir dari era yang sempat diwarnai gelar scudetto.
Dalam pernyataan singkat yang dirilis klub, Milan mengonfirmasi pemutusan kontrak Bennacer berdasarkan kesepakatan bersama. โAC Milan dapat mengonfirmasi pengakhiran kontrak Ismael Bennacer dengan persetujuan kedua belah pihak,โ bunyi rilis resmi tersebut. โKlub ingin mendoakan yang terbaik untuk masa depannya.โ Ucapan perpisahan yang hangat itu tidak menyembunyikan kenyataan pahit: Bennacer sudah tidak lagi menjadi bagian dari rencana jangka panjang tim asuhan Paulo Fonseca.
Perjalanan Bennacer di Milan dimulai pada 2019 ketika ia direkrut dari Empoli. Selama berseragam merah-hitam, ia mencatatkan 137 penampilan di Serie A dan menjadi salah satu tokoh kunci dalam keberhasilan Milan merebut scudetto pada musim 2021-22. Namun, cedera lutut yang terus menghantuinya membuat performanya menurun drastis. Ia sempat dipinjamkan ke Olympique de Marseille dan Dinamo Zagreb untuk memulihkan kondisi, tetapi tak kunjung mampu kembali ke level terbaiknya. Pertandingan kompetitif terakhirnya bersama Milan terjadi pada 2024.
Kepergian Bennacer bukan sekadar akhir kisah personal. Bagi Milan, ini adalah langkah strategis untuk meremajakan lini tengah yang mulai menua. Dengan kontrak yang diakhiri lebih awal, klub menghemat beban gaji dan membuka slot untuk rekrutan baru. Di sisi lain, Bennacer kini menjadi agen bebas yang menarik perhatian sejumlah klub Eropa dan Timur Tengah. Namun, bagi pengamat sepak bola Asia, termasuk Indonesia, kabar ini juga menjadi sinyal bahwa pemain dengan pedigree Serie A bisa menjadi incaran liga-liga yang sedang berkembang.
Di tengah hiruk-pikuk bursa transfer, keputusan Milan ini juga mengirim pesan tentang pentingnya manajemen risiko cedera. Bennacer adalah contoh nyata bagaimana talenta besar bisa redup oleh masalah fisik yang berkepanjangan. Bagi klub-klub Asia, termasuk Indonesia yang tengah gencar mendatangkan pemain asing berkualitas, kasus ini menjadi pelajaran berharga: investasi pada pemain bintang harus diimbangi dengan evaluasi medis yang ketat.
Ke depannya, pertanyaan yang menggantung adalah ke mana Bennacer akan berlabuh. Akankah ia memilih tantangan baru di Eropa, atau justru membawa pengalamannya ke liga yang sedang naik daun seperti Saudi Pro League atau bahkan Liga 1 Indonesia? Yang jelas, dengan status bebas transfer, ia menjadi komoditas menarik di bursa musim panas ini.



