Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi Empat Kali, Status Siaga: Warga Diimbau Waspadai Lahar Hujan
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-laki meningkat dengan empat letusan dalam enam jam, kolom abu mencapai 500 meter.
- Status Siaga (Level III) masih bertahan, dengan larangan aktivitas dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi.
- Potensi lahar hujan mengancam sejumlah sungai di Flores Timur; warga diminta waspada dan menggunakan masker.

Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang intensif. Dalam rentang enam jam pada Sabtu (8/8), gunung tersebut meletus sebanyak empat kali, dengan letusan terakhir melontarkan kolom abu setinggi 500 meter di atas puncak. Kejadian ini menegaskan bahwa gunung berstatus Siaga (Level III) masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan aktivitas.
Menurut laporan petugas pemantau, Bramantya Aji Putra Mahendra, erupsi terakhir terjadi pukul 17.14 Wita. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal teramati condong ke arah barat daya dan barat. Getaran akibat letusan terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 44,4 milimeter dan durasi sekitar satu menit 29 detik. Data ini menunjukkan energi yang cukup signifikan, meski belum sebesar erupsi Jumat siang yang melontarkan abu setinggi 800 meter.
Status Siaga yang dipertahankan sejak beberapa waktu terakhir mengindikasikan potensi bahaya yang masih mengancam masyarakat di sekitar gunung. Pihak berwenang telah menetapkan radius larangan aktivitas sejauh lima kilometer dari pusat erupsi. Imbauan ini berlaku bagi warga, pengunjung, dan wisatawan. Selain itu, masyarakat diminta tetap tenang, mengikuti arahan pemerintah daerah, dan tidak mudah percaya pada isu yang tidak jelas sumbernya.
Ancaman yang tidak kalah serius adalah potensi banjir lahar hujan. Jika hujan dengan intensitas tinggi turun, sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung dapat membawa material vulkanik. Wilayah yang perlu diwaspadai meliputi Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote. Warga yang terdampak hujan abu juga diimbau menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut untuk menghindari gangguan pernapasan.
Koordinasi antara pemerintah daerah, Pos Pengamatan Gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera, dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus diperkuat. PVMBG juga berkomunikasi dengan BPBD Provinsi NTT dan Satlak PB setempat untuk memastikan informasi perkembangan aktivitas gunung tersampaikan dengan cepat. Langkah ini penting mengingat pengalaman erupsi sebelumnya yang menuntut kesiapsiagaan tinggi.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang berada di kawasan rawan bencana, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi struktural dan non-struktural. Sistem peringatan dini yang andal, edukasi kebencanaan, serta kepatuhan terhadap imbauan resmi adalah kunci mengurangi risiko. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah status Siaga ini bertahan lama, atau justru meningkat? Yang jelas, kewaspadaan harus tetap dijaga, karena aktivitas gunung api tidak pernah bisa diprediksi dengan pasti.



