Aksi Jual Saham AI Seret Indeks Global, Wall Street dan Eropa Terkoreksi
Baca dalam 60 detik
- Tekanan jual di saham teknologi, khususnya kecerdasan buatan, memicu koreksi di bursa AS dan Eropa setelah investor meragukan imbal hasil investasi infrastruktur AI.
- Indeks S&P 500 dan Nasdaq merosot signifikan, sementara Dow Jones relatif stabil; bursa Asia terbelah antara aksi beli murah dan kelemahan sektor teknologi.
- Koreksi ini berpotensi mempengaruhi sentimen investor Indonesia, terutama terhadap saham teknologi dan komoditas yang terpaut harga global.

Gelombang aksi jual saham berbasis kecerdasan buatan (AI) mengguncang pasar modal global, mendorong indeks utama Amerika Serikat dan Eropa jatuh pada perdagangan Selasa (25/6) waktu setempat. Keraguan investor terhadap kemampuan perusahaan teknologi raksasa—yang dikenal sebagai hyperscaler—dalam menghasilkan keuntungan dari belanja infrastruktur AI yang masif menjadi pemicu utama koreksi ini.
Menurut laporan First National Bank (FNB) yang dirilis Rabu (26/6), sentimen negatif terhadap belanja AI menyebar secara terkoordinasi di seluruh ekuitas global. Indeks S&P 500 ditutup melemah 1,44 persen, sementara Nasdaq yang sarat saham teknologi ambles 2,21 persen. Tekanan paling terasa pada produsen semikonduktor dan memori, yang selama ini menjadi tulang punggung revolusi AI. Sebaliknya, Dow Jones hanya tergelincir tipis 0,09 persen, ditopang oleh saham defensif di sektor kesehatan dan barang konsumen.
Bursa Eropa tak luput dari imbas. Euro Stoxx 50 merosot 1,28 persen, sedangkan FTSE 100 di London turun 0,09 persen. Di Asia, pergerakan bervariasi: Hang Seng Hong Kong nyaris flat dengan kenaikan 0,04 persen berkat aksi beli murah, sementara ASX 200 Australia menguat 0,23 persen setelah investor mencerna data inflasi terbaru. Namun, Nikkei 225 Jepang justru terperosok 1,72 persen akibat kelemahan sektor teknologi yang berkepanjangan.
Bursa Afrika Selatan (JSE) diperkirakan akan dibuka flat hingga positif pada Rabu pagi, seiring potensi investor kembali masuk setelah aksi jual kemarin. FNB mencatat bahwa futures global bergerak tanpa arah jelas, sementara mayoritas bursa Asia menguat. Di sisi lain, kenaikan saham Tencent sebesar 3,42 persen memberikan sentimen positif bagi Naspers dan Prosus—dua perusahaan induk yang terdaftar di JSE—meskipun sebagian terkompensasi oleh pelemahan sektor pertambangan Australia.
Koreksi ini berpotensi berdampak pada pasar Indonesia, terutama bagi investor yang memiliki eksposur terhadap saham teknologi global melalui reksa dana atau ETF. Selain itu, pelemahan harga komoditas seperti emas dan platinum—yang kembali turun—bisa menekan saham-saham pertambangan di Bursa Efek Indonesia. Sektor keuangan domestik mungkin relatif lebih terlindungi, seperti halnya yang terjadi di JSE di mana sektor finansial bertahan datar.
Ke depan, pertanyaan kunci adalah apakah aksi jual ini hanya koreksi sementara atau awal dari tren bearish yang lebih panjang. Investor akan mencermati laporan keuangan kuartal kedua dari perusahaan teknologi besar, yang dijadwalkan rilis dalam beberapa pekan mendatang, untuk menguji kembali optimisme terhadap AI. Jika pendapatan tidak sesuai ekspektasi, tekanan jual bisa berlanjut.



