Gelombang Panas Eropa Lumpuhkan Listrik 68.000 Rumah di Prancis
Baca dalam 60 detik
- Prancis mengalami pemadaman listrik massal pertama akibat gelombang panas ekstrem, dengan 68.000 rumah di Brittany terputus aliran listrik.
- Suhu mencapai 39-41ยฐC di 58 departemen yang berada dalam status siaga merah, memicu lonjakan permintaan listrik dan kerusakan transformator.
- Peristiwa ini menjadi peringatan bagi negara tropis seperti Indonesia akan kerentanan infrastruktur kelistrikan terhadap perubahan iklim.

Gelombang panas yang melanda Eropa pekan ini menyebabkan pemadaman listrik besar pertama di Prancis, memutus aliran listrik ke sekitar 68.000 rumah tangga di wilayah barat laut negara tersebut. Insiden yang terjadi di komune Ergue-Gaberic, dekat kota Quimper di Brittany, dipicu oleh suhu ekstrem yang merusak transformator pada jaringan listrik, demikian pernyataan otor setempat, Rabu (24/6).
Pemadaman yang berlangsung sejak Selasa malam pukul 21.00 waktu setempat ini belum sepenuhnya pulih hingga Rabu sore. Operator jaringan listrik RTE dan Enedis telah bekerja sepanjang malam untuk memperbaiki kerusakan, namun koneksi kembali ke seluruh rumah tangga diperkirakan baru bisa dilakukan pada akhir hari. "Untuk alasan teknis, RTE tidak dapat menyambung kembali rumah tangga yang terdampak selama hari ini; sambungan akan dilakukan paling cepat pada akhir Rabu," ujar perwakilan operator.
Wilayah Finistere, tempat terjadinya pemadaman, merupakan salah satu dari 58 departemen di Prancis yang berada dalam status siaga merah (red alert) akibat gelombang panas. Suhu diperkirakan mencapai 39 hingga 41 derajat Celsius, membentang dari Brittany hingga wilayah Paris. Kondisi ini menjadikan Rabu sebagai hari terpanas dalam sejarah Prancis, dengan lebih dari 106.000 pelanggan jaringan listrik sempat kehilangan daya pada Selasa malam.
Para ahli menjelaskan bahwa gelombang panas ekstrem ini dipicu oleh pola sirkulasi atmosfer yang menjebak udara panas selama berhari-hari, diperparah oleh pemanasan global. Fenomena yang sama juga melanda negara-negara Eropa lainnya, memicu kekhawatiran akan kesiapan infrastruktur dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin tidak menentu.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan sistem kelistrikan terhadap cuaca ekstrem. Meskipun Indonesia tidak mengalami gelombang panas seperti Eropa, peningkatan suhu rata-rata dan fenomena cuaca ekstrem seperti El Niรฑo dapat meningkatkan permintaan listrik secara drastis, terutama untuk pendingin ruangan. Infrastruktur kelistrikan di daerah padat penduduk seperti Jawa dan Sumatera perlu diantisipasi dengan sistem pendingin transformator yang lebih baik dan diversifikasi sumber energi.
Ke depan, pertanyaan mendesak adalah apakah negara-negara dengan infrastruktur kelistrikan yang lebih rentan, termasuk Indonesia, mampu beradaptasi dengan cepat terhadap frekuensi dan intensitas gelombang panas yang meningkat akibat perubahan iklim. Tanpa investasi yang memadai dalam ketahanan jaringan, pemadaman serupa bukan hanya ancaman bagi Eropa, melainkan juga bagi negara-negara tropis yang selama ini dianggap aman dari suhu ekstrem.



