Dua Kapal Korea Selatan Akhirnya Lintasi Selat Hormuz, Tiga Lainnya Masih Terjebak
Baca dalam 60 detik
- Dua kapal kargo Korea Selatan berhasil melewati Selat Hormuz setelah terjebak selama empat bulan akibat konflik Iran-AS.
- Sebanyak 43 awak kapal asal Korea Selatan masih terisolasi di perairan tersebut, termasuk kru dari kapal yang rusak akibat serangan rudal.
- Keberhasilan ini membuka jalur pelayaran yang sempat lumpuh, namun risiko keamanan di jalur minyak dunia masih tinggi.

Dua kapal niaga berbendera Korea Selatan akhirnya berhasil melintasi Selat Hormuz pada Sabtu (27/6) setelah terdampar selama berbulan-bulan akibat eskalasi konflik di kawasan Asia Barat. Keberangkatan kedua kapal itu menandai langkah kecil menuju normalisasi lalu lintas laut di salah satu jalur energi paling strategis di dunia.
Menurut pernyataan Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea Selatan, dua kapal yang dioperasikan oleh perusahaan pelayaran setempat itu kini telah berlayar normal setelah melewati selat tersebut. Mereka merupakan bagian dari 26 kapal terkait Korea Selatan yang terjebak sejak Iran memblokade jalur pelayaran pada akhir Februari lalu, di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Dua kapal pertama berhasil keluar lebih awal dengan bantuan Iran, sementara kapal-kapal lainnya mulai meninggalkan perairan tersebut satu per satu setelah gencatan senjata antara AS dan Iran ditandatangani awal bulan ini. Namun, masih ada tiga kapal Korea Selatan yang belum bisa bergerak, termasuk HMM Namu yang mengalami kerusakan akibat serangan rudal yang dikaitkan dengan Iran dan kini sedang menjalani perbaikan di pelabuhan Dubai.
Empat awak kapal berkewarganegaraan Korea Selatan berada di atas dua kapal yang baru saja melintas, namun kedua kapal tersebut tidak menuju ke pelabuhan di Korea Selatan. Kementerian Kelautan menyatakan telah melakukan pemantauan secara langsung dan memberikan bantuan diplomatik serta navigasi bersama Kementerian Luar Negeri untuk memastikan keselamatan pelayaran.
Bagi Indonesia, situasi di Selat Hormuz memiliki implikasi langsung terhadap pasokan energi nasional. Indonesia mengimpor sekitar 20-30% kebutuhan minyak mentah dari negara-negara Teluk yang harus melewati selat tersebut. Gangguan di jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga BBM di dalam negeri dan mengganggu stabilitas pasokan. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini dan menyiapkan skenario diversifikasi jalur impor, misalnya melalui peningkatan kerja sama dengan negara produsen di Afrika atau Amerika Latin.
Analis maritim dari Universitas Indonesia menilai bahwa keberhasilan dua kapal Korea Selatan melintasi Selat Hormuz merupakan sinyal positif, tetapi belum sepenuhnya menghilangkan risiko. “Gencatan senjata masih rapuh, dan setiap insiden kecil bisa memicu blokade baru. Negara-negara pengguna jalur ini, termasuk Indonesia, harus memiliki rencana kontinjensi,” ujarnya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah stabilitas di Selat Hormuz dapat bertahan lama, atau justru menjadi ajang ketegangan baru yang kembali mengancam rantai pasok energi global. Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, tidak punya pilihan selain terus memonitor dinamika ini dan memperkuat ketahanan energi domestik.



