Brunei Gencarkan Program MESRA: Pelatihan Hotel Berbasis Nilai Islam untuk Tekan Tingkat Keluar Karyawan
Baca dalam 60 detik
- Program MESRA yang digagas Dinas Pariwisata Brunei dan Asosiasi Hotel Brunei (BAH) bertujuan meningkatkan standar layanan dan retensi karyawan di sektor perhotelan.
- Lebih dari 82 karyawan hotel telah mengikuti pelatihan yang menggabungkan keterampilan layanan pelanggan dengan nilai-nilai Maqasid Syariah dan Ahli Sunnah Wal Jama’ah.
- Inisiatif ini menjadi contoh bagi industri perhotelan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dalam mengatasi tingginya turnover tenaga kerja melalui pendekatan holistik.

Dinas Pariwisata Brunei Darussalam bersama Asosiasi Hotel Brunei (BAH) meluncurkan program pelatihan unggulan bernama MESRA pada Mei 2026, sebuah inisiatif yang dirancang untuk memperkuat standar layanan di sektor perhotelan sekaligus menekan angka pergantian karyawan yang kerap menjadi momok industri ini.
Program yang dijalankan oleh Presiden BAH, Mohd Iswandi Maaruf, ini menyasar 27 hotel anggota asosiasi dan dibagi ke dalam enam kelompok pelatihan. Hingga saat ini, kelompok I dan III telah menyelesaikan sesi mereka dengan total peserta lebih dari 82 karyawan hotel. Langkah ini menunjukkan komitmen serius Brunei dalam membangun sumber daya manusia yang kompeten di bidang perhotelan.
Yang membedakan MESRA dari program pelatihan konvensional adalah pendekatan holistiknya yang memadukan keterampilan layanan pelanggan dengan nilai-nilai Islam. Berlandaskan prinsip Maqasid Syariah, pelatihan ini menanamkan nilai amanah, tanggung jawab, keikhlasan, integritas, keadilan, dan kesabaran di tempat kerja. Selain itu, ajaran Ahli Sunnah Wal Jama’ah turut diintegrasikan untuk memperkuat tanggung jawab sipil dan kepatuhan terhadap tata kelola yang baik.
Menurut Mohd Iswandi, industri perhotelan menghadapi tantangan unik, terutama tingginya tingkat turnover staf di lingkungan operasi 24 jam yang menuntut karyawan untuk terus-menerus menangani interaksi kompleks dengan tamu. Ia menekankan bahwa pelatihan berkelanjutan menjadi kunci untuk membekali karyawan dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan guna memberikan layanan berkualitas. Organisasi yang berinvestasi pada pengembangan tenaga kerja, katanya, cenderung mampu mempertahankan karyawan yang berkomitmen dan meraih kesuksesan jangka panjang.
Bagi Indonesia, program MESRA menawarkan pelajaran berharga. Industri perhotelan di Tanah Air juga bergulat dengan masalah serupa: tingkat pergantian karyawan yang tinggi, terutama di level frontliner. Pendekatan Brunei yang mengintegrasikan nilai-nilai lokal—dalam hal ini nilai Islam—dengan pelatihan teknis dapat menjadi model adaptasi. Misalnya, asosiasi hotel di Indonesia seperti PHRI atau IH&RA dapat merancang program serupa yang memasukkan nilai-nilai Pancasila atau kearifan lokal untuk meningkatkan loyalitas dan etos kerja karyawan.
Program MESRA akan berlanjut dengan kelompok IV, menandai komitmen berkelanjutan Brunei dalam memperkuat industri perhotelan melalui pengembangan profesional. Pertanyaannya, mampukah pendekatan berbasis nilai ini menjadi solusi jangka panjang untuk masalah retensi tenaga kerja di sektor perhotelan Asia Tenggara?



